RSS

ILMU AKHLAQ

ILMU AKHLAQ
Ilmu Akhlak sering digunakan juga untuk menyebut ethica atau filsafat ethica. Ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang satu terhadap yang lain, menyatakan tujuan dari apa yang dilakukan dan membimbing bagaimana melaksanakan apa yang semestinya dilakukan.

Ethica merupakan cabang dari filsafat, dimana secara epistimologi terdiri dari: (1) Methafisika, (2) Filsafat alam/Cosmology, (3) Ilmu Jiwa/ Psikologi, (4) Logika/Ilmu Mantiq, (5) Ethics, (6) Falsafat Hukum, (7) Sosiologi dan (8) Filsafat Sejarah.
Akan tetapi jika yang dimaksud itu ilmu Akhlak dalam perspektip Epistimologi Islam, maka ia merupakan pembidangan ajaran Islam, Aqidah syari'ah dan Akhlak. Jika etika lebih pada hubungan horizontal antar manusia, maka akhlak menyangkut hubungan vertikal, horizontal dan internal.
Dalam Islam, akhlak merupakan sistem nilai yang merupakan subsistem dari sistem syariah Islam dimana aqidah, syariah (dalam pengertian khusus) dan akhlak menjadi subsistemnya. Oleh karena itu akhlak manusia mencakup hubungannya dengan:
• Dengan Tuhan (vertikal)
• dengan sesama manusia (horizontal)
• dengan hewan
• dengan alam
• dengan diri sendiri (internal)
Bersyukur dan beribadah adalah wujud akhlak manusia sebagai makhluk kepada Tuhannnya. Menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, membantu yang lemah adalah wujud dari akhlak manusia kepada sesama manusia. Menyayangi binatang, memelihara habitat binatang, memelihara lingkungan sebagai ekosistem adalah wujud akhlak manusia kepada binatang dan lingkungan. Jujur dan sabar adalah wujud akhlak manusia kepada diri sendiri.

• Konsep kebaikan dan keburukan
Ada orang yang memiliki pengertian yang lengkap tentang kebaikan dan keburukan. Ia bisa menerangkan dengan lancar segi-segi dan kriteria-kriteria yang berhubungan dengan kebaikan atau keburukan itu. Tetapi pengertiannnya itu tidak mengantarnya pada perbuatan kongkrit. Pengertiannya tentang kebaikan atau keburukan berhenti pada konsep, sementara perbuatan yang dilakukan sama sekali tidak diilhami oleh pengertiannya tentang kebaikan atau keburukan. Model orang seperti ini biasanya terdapat pada orang intelek yang jahat atau penjahat yang jenius.

• Pengenalan kepada kebaikan dan keburukan
Kata mengenal mempunyai muatan yang berbeda dengan kata mengetahui. Orang Arab menggunakan kata ma'rifat untuk menyebut pengenalan dan kata 'ilm untuk menyebut pengetahuan, Pengetahuan merupakan aspek kognitip sedangkan pengenalan sudah menyentuh aspek afektip. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu belum tentu memotivisir tingkahlaku yang mendukung pengetahuannya, tetapi orang yang mengenal tentang sesuatu, kalau toh tidak melakukan sesuatu yang sejalan dengan pengenalannya, sekurang-kurangnya ia simpati atau empati terhadapnya. Orang yang memiliki banyak pengetahuan tentang nilai-nilai kebaikan boleh jadi ia bisa menjadi dosen ilmu etika atau menulis buku tentang etika, tetapi belum tentu perbuatannya sesuai dengan pengetahuan yang diajarkan dan ditulisnya. Tetapi orang yang sudah mengenal nilai-nilai kebaikan, ia bukan hanya mengetahui tetapi merasakan makna dari suatu perbuatan baik, dan dapat merasakan penderitaan korban dari perbuatan kejahatan. Orang yang sudah mengenal kebaikan, kalau toh ia belum menjadi orang baik, sekurang-kurangnya ia sudah bercita-cita untuk menjadi orang baik. Ia mau membantu orang lain yang sedang berusaha untuk menjadi orang baik, dan kalau toh ia belum bisa menjadi orang baik, ia selalu menyesali dirinya mengapa ia belum bisa. Ia sudah mencintai kebaikan yang sudah ia kenali meski ia belum bisa memeluknya erat-erat.

• Kecenderungan Jiwa kepada Kebaikan atau Keburukan

Seseorang pada tingkatan ini, pengetahuan dan pengenalannya terhadap kebaikan dan atau keburukan telah menjadi bagian dari jiwanya, sehingga jika ia orang baik, maka berbuat baik itu sudah merupakan spontanitas, tanpa memikirkan untung rugi dan resikonya. Demikian juga jika ia orang jahat maka berbuat jahat sudah merupakan spontanitas tanpa memikirkan resiko bagi dirinya maupun akibat buruk yang akan menimpa korban kejahatannya. Orang baik pada tingkatan ini alergi kepada perbuatan buruk, sebaliknya orang jahat pada tingkatan ini juga alergi terhadap perbuatan baik. Pada tingkatan inilah seseorang dianggap sudah berakhlak, akhlak baik atau akhlak buruk, karena nilai-nilai kebaikan atau keburukan telah mewarnai keadaan batinnya, keadaan jiwanya.

• Pentingnya Akhlaq
Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau Salafush Sholih (generasi terbaik dari umat Islam) bukan hanya mengajarkan prinsip dalam beraqidah saja, namun Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga bagaimanakah berakhlaq yang mulia.
Itulah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad 2/381, shahih)
Dalam suatu hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan do’a,
اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ
“Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau)” (HR. Muslim no. 771).
Di antara bukti pentingnya akhlaq di sisi para salaf –Ahlus Sunnah wal Jama’ah-, mereka menjadikan masalah akhlaq sebagai ushul (pokok) aqidah dan mereka memasukkannya dalam permasalahan aqidah. Di antara ajaran akhlaq tersebut adalah:
1) Pertama: Selalu mengajak pada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)
2) Kedua: Mendahulukan sikap lemah lembut dalam berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar
Allah Ta’ala berfirman,
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125)
3) Ketiga: Sabar ketika berdakwah
Hal ini karena mengamalkan firman Allah Ta’ala,
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
4) Keempat: Tidak ingin kaum muslimin berselisih
Ahlus Sunnah ketika menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, mereka punya satu prinsip yang selalu dipegang yaitu menjaga keutuhan jama’ah kaum muslimin, menarik hati setiap orang, menyatukan kalimat (di atas kebenaran), juga menghilangkan perpecahan dan perselisihan.
5) Kelima: Memberi nasehat kepada setiap muslim karena agama adalah nasehat
Ahlus Sunnah wal Jama’ah pun punya prinsip untuk memberi nasehat kepada setiap muslim serta saling tolong menolong terhadap sesama dalam kebaikan dan takwa. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».
“Agama adalah nasehat. Kami berkata, “Kepada siapa?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya dan kepada pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim no. 55)
6) Keenam: Bersama pemerintah kaum muslimin dalam beragama
Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga menjaga tegaknya syari’at Islam dengan menegakkan shalat Jum’at, shalat Jama’ah, menunaikan haji, berjihad dan berhari raya bersama pemimpin kaum muslimin baik yang taat pada Allah dan yang fasik. Prinsip ini jauh berbeda dengan prinsip ahlu bid’ah.
7) Ketujuh: Bersegera melaksanakan shalat wajib dan khusyu di dalamnya
Ahlus Sunnah punya prinsip untuk bersegera menunaikan shalat wajib, mereka semangat menegakkan shalat wajib tersebut di awal waktu bersama jama’ah. Shalat di awal waktu itu lebih utama daripada shalat di akhir waktu kecuali untuk shalat Isya. Ahlus Sunnah pun memerintahkan untuk khusyu’ dan thuma’ninah (bersikap tenang) dalam shalat. Mereka mengamalkan firman Allah Ta’ala,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.” (QS. Al Mu’minun: 1-2)
8) Kedelepan: Semangat melaksanakan qiyamul lail
Ahlus Sunnah wal Jama’ah saling menyemangati (menasehati) untuk menegakkan qiyamul lail (shalat malam) karena amalan ini adalah di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shalat ini pun yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun bersemangat untuk taat kepada Allah Ta’ala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menunaikan shalat malam. Sampai kakinya pun terlihat memerah (pecah-pecah). ‘Aisyah mengatakan, “Kenapa engkau melakukan seperti ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang?”. Beliau lantas mengatakan,
أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“(Pantaskah aku meninggalkan tahajjudku?) Jika aku meninggalkannya, maka aku bukanlah hamba yang bersyukur.” (HR. Bukhari no. 4837)
9) Kesembilan: Tegar menghadapi ujian
mengingat firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya ujian yang berat akan mendapatkan pahala (balasan) yang besar pula. Sesungguhnya Allah jika ia mencintai suatu kaum, pasti Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho, maka Allah pun ridho padanya. Barangsiapa yang murka, maka Allah pun murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih)
10) Kesepuluh: Tidak mengharap-harap datangnya musibah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا
“Janganlah kalianmengharapkan bertemu dengan musuh tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh bersabarlah.” (HR. Bukhari no. 2966 dan Muslim no. 1742)
11) Kesebelas: Tidak berputus asa dari pertolongan Allah ketika menghadapi cobaan
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syura: 30).
12) Keduabelas: Tidak kufur nikmat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)
Ketigabelas: Selalu menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia
Ahlus Sunnah selalu menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia dan baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi no. 1162, Abu Daud no. 4682 dan Ad Darimi no. 2792, hasan shahih)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا
“Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang bagus akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi no. 2018, shahih)
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
“Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan shalat dengan ahlak baiknya.” (HR. Abu Daud no. 4798, shahih)
مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ
“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2003, shahih)
Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Referensi: Min Akhlaq Salafish Sholih, ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid Al Atsari, Dar Ibnu Khuzaimah.
Akhlaq Manusia sebagai Orang Islam
A. Akhlaq Terhadap Allah SWT
• Ketika melakukan Tho’at / Ibadah
1. Memandang bahwa bisa melakukan ibadah karena hidayah dari Allah
2. Meyakini bahwa bisa melakukan ibadah karena taufiq dari Allah
3. Memandang bahwa bisa melakukan ibadah karena pertolongan dari Allah
4. Bersyukur
5. Meningkatkan Ibadahnya

• Ketika melakukan Ma’siat
1. Istighfar
2. Menyesali perbuatan dosa itu
3. Bertekad untuk tidak mengulangi lagi

• Ketika mendapat Ni’mat
1. Bersyukur
- Dengan lisan
- Dengan hati
- Dengan anggota badan
2. Qona’ah
3. Semakin meningkatkan ibadahnya

• Ketika Mendapat Musibah
1. Sabar
2. Ridho
3. Semakin mendekatdan taqorrub pada Allah SWT.

B. Akhlaq Terhadap Guru
1. Mendahulukan dan memilih guru yang baik yang berbudi pekerti yang luhur
2. Mencari guru yang paham dan pandai ilmu syari’at
3. Patuh dan ta’at pada semua perintah guru
4. Memandang guru dengan pandangan ta’dhim dan mengagungkan
5. Mengetahui hak-hak nya guru
6. Sabar terhadap kekerasan guru
7. Sabar terhadap jeleknya tingkah laku guru
8. Duduk di depan guru dengan sopan
9. Membagusi ucapan di depan guru
10. Mendengarkan hikmah-hikmah, faidah, masail dan mawa’idh yang disampaikan oleh guru
11. Tidak mendahului guru dalam hal menjelakan masalah, pertanyaan dan lain-lain
12. Tidak memasuki majilis guru tanpa seizinnya
13. Member dan menerima sesuatu dari guru dengan tangan kanan

C. Akhlaq Terhadap Ilmu
1. Dimulai dengan ilmu yang fardlu a’in, diantaranya :
a. Ilmu Dzat Allah
b. Ilmu Sifat Allah
c. Ilmu Fiqih
d. Ilmu Tasawuf
• Ahwal ( keadaan hati )
• Adab ( tatakrama )
• Maqomat ( derajat / kedudukan hamba )
2. Dilanjutkan dengan belajar al-Qur’an hadits
3. Berhati-hati dalam memutuskan masalah ( hukum ) yang masih diperselisihkan ulama’
4. Membagusi bacaan sebelum dihafalkan
5. Cepat-cepat hadir dan mendengarkan jika ada majlis ilmu
6. Jika guru menjelaskan ilmu maka dengarkan dengan seksama
7. Memandang jenggot dan mulut sang guru ketika guru menjelaskan ilmu
8. Jika hadir dalam majlis guru maka ucapkan salam
9. Tidak malu bertanya terhadap apa-apa yang sulit dan tidak bisa dipahami
10. Menjaga gilirannya ( menjelaskan, bertanya atau menjawab pertanyaan )
11. Mduduk di depan guru dengan beradab dan sopan-santun
12. Menetapkan belajar satu ilmu sampai selesei sebelum berpindah atau berganti ilmu yang lain
13. Mencintai ilmu, penuntut ilmu dan rajin dalam menuntut ilmu

D. Akhlaq Terhadap Orang Tua
1. Berbakti kepadanya
2. Member makan jika mereka membutuhkanya
3. Melayani mereka
4. Memenuhi panggilannya
5. Ta’at dan patuh pada perintahnya
6. Berbicara dengan lembut dan halus
7. Jika berjalan bersama orang tua :
• Jika malam hari maka anak di depan
• Jika siang hari maka anak di belakang
8. Senang pada orang tua seperti senang pada diri sendiri
9. Benci pada orang tua seperti benci pada diri sendiri
10. Mendo’akannya
11. Tetap menghormati dan mena’atinya walau berbeda agama

E. Akhlaq Terhadap Teman
1. Memperhatikan perasaan teman
2. Menghormatinya
3. Tidak menghinanya
4. Tidak memanggi dengan panggilan yang jelek
5. Mengerti kondisi teman
6. Mengerti karakter dan wataknya
7. Menghargainya
8. Menempatkan teman pada kedudukan yang baik dan tinggi
9. Menjaga rahasianya
10. Tawadlu’ dengannya ( rendah diri )
11. Tidak merasa lebih tinggi
12. Tidak sombong, angku iri atau dengki
13. Saling tersenyum satu sama lain
14. Tidak membesar-besarkan masalah atau pembicaraan
15. Menggunakan bahasa yang baik dalam bercakap
16. Berbaik sangka ( husnu dzon )
17. Saling memaafkan
18. Tidak mengungkit-ungkit masalah / pemberian yang telah berlalu
19. Damai
20. Tidak mencari kesalahannya
21. Memberikan haknya
22. Mendengarkan keluh kesanhya

F. Akhlaq Terhadap Masyarakat dan Tetangga
1. Menghormati dan berperilaku yang baik
2. Tidak memotong atau mengambil bagian tengah bangunannya
3. Menjaga hak-hak mereka
4. Tidak mengganggu atau membuatkegaduhan
5. Memberi nasehat
6. Memberi makanan jika ada atau punya kelebihan
7. Ikut senang tatkala mereka sengang
8. Tidak mencari kesalahan mereka
9. Tidak mencari kejelekan atau aib mereka
10. Sabar terhadap perilaku mereka
11. Amar ma’ruf nahi munkar
12. Mendirikan sejenis majlis yang manfa’at
13. Tidak membuka aib mereka
14. Saling tolong menolong dalam kebaikan
15. Bersikap ikhlas dalam segala hal

G. Hak terhadap sesamanya
1. Menjawab salam
2. Menjenguk yang sakit
3. Ta’ziyah
4. Mendo’akan tatkala bersin
5. Mendatangi undangannya
6. Membenarkan sumpahnya
7. Salingmenjaga amanat , barang dan rahasianya
8. Saling menasehati
9. Saling mencintai
10. Jika benci dan cinta maka benci dan cinta seperti pada diri sendiri

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar