RSS

MAKALAH MAF'UL BIH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam mempelajari al-Qur’an, ilmu Nahwu sangatlah penting untuk dipelajari. Maka dalam ini kami membahas sedikit tentang salah satu dari sekian bab dalam Nahwu, yaitu tentang Maf’ul Bih. Diharapkan uraian dalam makalah ini dapat menambah pengetahuan kita tentang ilmu nahwu dan semoga membawa manfaat bagi pembaca pada umumnya dan penyusun pada khususnya.
Dalam uraian ini kami menyadari bahwa banyak terdapat kesalahan atau kekurangan dalam penyusunannya. Oleh karena itu kritik dan saran dari para pembaca sangat kami harapkan dalam perbaikan makalah kami selanjutnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari maf’ul bih ?
2. Apa saja pembagian maf’ul bih ?
3. Bagaimana posisi maf’ul bih dalam kalimat ?
4. Bagaimana maf’ul bih yang boleh dibuang amilnya ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian maf’ul bih.
2. Untuk mengetahui fungsi dan kedudukan maf’ul bih dalam suatu susunan bahasa Arab.
3. Untuk memenuhi tugas Nahwu.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Maf’ul Bih
Maf’ul bih ialah maf’ul yang di baca nashob yang terkena pekerjaan fa’il dan berfungsi sebagai objek.
Maf’ul bih terbagi menjadi dua, yaitu: maf’ul bih isim dhohir dan maf’ul bih isim dlomir.
Adapun maf’ul bih isim dhomir juga di bagi dua, yaitu:
I. Terdiri dari Dhomir Muttashil, contoh:
1. جَاءَهُ = Ia datang kepada dia (laki-laki). جَاءَ Sebagai fiil, fail-nya, berupa dhamir mustatir (yang disimpan pada lafal) جَاءَ , sedang dhamir hu (هُ) sebagai maf’ul bih-nya.
2. جَاءَهُمَا = Ia datang kepada mereka berdua. Dhamir هُمَا adalah sebagai maf’ul bih-nya, sedang fiil dan fail-nya sama dengan yang berada pada nomor satu.
3. جَاءَهُمْ = Ia datang kepada mereka (laki-laki). Dhamir هُمْ adalah sebagai maf’ul bih-nya.
4. جَاءَهَا = Ia datang kepada dia (perempuan). Dhamir هَا adalah sebagai maf’ul bih-nya.
5. جَاءَهُنَّ = Ia datang kepada mereka (perempuan). Dhamir هُنَّ adalah sebagai maf’ul bih-nya.
6. جَاءَكَ = Ia datang kepada kamu (laki-laki). Dhamir ka (كَ) adalah sebagai maf’ul bih-nya.
7. جَاءَكُمَا = Ia datang kepada kamu berdua. Dhamir كُمَا adalah sebagai maf’ul bih-nya.
8. جَاءَكُمْ = Ia datang kepada kamu sekalian (laki-laki). Dhamir كُمْ adalah sebagai maf’ul bih-nya.
9. جَاءَكِ = Ia datang kepada kamu (perempuan). Dhamir ki (كِ) adalah sebagai maf’ul bih-nya.
10. جَاءَكُنَّ = Ia datang kepada kamu sekalian (perempuan). Dhamir كُنَّ adalah sebagai maf’ul bih-nya.
11. جَاءَنِى = Ia datang kepada saya. Dhamir ya’ (ي) dalam lafal نِى adalah sebagai maf’ul bih-nya.
12. جَاءَنَا = Ia datang kepada kami atau kita. Dhamir naa (نَا) adalah sebagai maf’ul bih-nya.
II. Terdiri dari Dhamir Munfashil, contoh:
1. اِيَّاهُ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada dia (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاهُ adalah sebagai maf’ul bih muqoddam (yang didahulukan dari fiil dan failnya), lafal اِحْتَرَمَ adalah fiil, sedangkan lafal مُحَمَّدٌ sebagai fail.
2. اِيَّاهُمَا احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada mereka berdua, Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاهُمَا adalah sebagai maf’ul bih.
3. اِيَّاهُمْ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada mereka (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاهُمْ adalah sebagai maf’ul bih.
4. اِيَّاهَا احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada dia (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاهَا adalah sebagai maf’ul bih.
5. اِيَّاهُنَّ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada mereka (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاهُنَّ adalah sebagai maf’ul bih.
6. اِيَّاكَ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada kamu (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاكَ adalah sebagai maf’ul bih.
7. اِيَّاكُمَا احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada kamu berdua, Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاكُمَا adalah sebagai maf’ul bih.
8. اِيَّاكُمْ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada kamu sekalian (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاكُمْ adalah sebagai maf’ul bih.
9. اِيَّاكِ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada kamu (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاكِ adalah sebagai maf’ul bih.
10. اِيَّاكُنَّ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada kamu sekalian (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاكُنَّ adalah sebagai maf’ul bih.
11. اِيَّا ىَ احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada saya Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّاىَ adalah sebagai maf’ul bih.
12. اِيَّانَا احْتَرَمَ مُحَمَّدٌ (Kepada kami/kita Muhammad menghormati). Dhamir اِيَّانَا adalah sebagai maf’ul bih.

B. Posisi Maf’ul Bih Dalam Kalimat
Posisi maf’ul bih yang asal dalam kalimat itu jatuh sesudah fail. Contoh:
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدُ = Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud.
Tetapi kadang-kadang dibolehkan mendahului fail. Contoh:
ضَرَبَ سَعْدَى مُوْسَى = Musa telah memukul Sa’da.
Kadang-kadang juga ada yang wajib mendahului fail-nya. Contoh:
زَانَ الشَّجَرَ نُوْرُهُ = Bunga itu telah menghiasi pohonnya.
Kata اَلشَّجَرَ dalam contoh di atas dibaca nashab, berkedudukan sebagai maf’ul bih yang harus mendahului fail-nya, yaitu kata نَوْرُهُ.
Sebab, fail dalam kalimat ini mengandung dhamir yang kembali pada maf’ul bih.
Kadang-kadang maf’ul bih itu mendahului fiil dan fail. Contoh:
فَرِيْقًا هَدَى وَفَرِيْقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الظَّلَالَةَ
Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah nyata kesesatan bagi mereka.

Kata فَرِيْقًا dalam ayat di atas dibaca nashab, berkedudukan sebagai maf’ul bih yang mendahului fiil dan fail-nya.
اَيَّامَا تَدْعُوْ فَلَهُ الْاَسْمَاءُ الْحُسْنَى
Nama-nama mana saja yang kamu seru, Dia mempunyai nama-nama terbaik.
Kata أَيَّامَا dalam ayat di atas dibaca nashab, berkedudukan menjadi maf’ul bih yang mendahului fiil dan failnya. Fiil-nya berupa kata تَدْعُو dan fail-nya berupa dhamir mustatir.

C. Maf’ul Bih Yang Boleh di Buang Amilnya
Di antara maf’ul bih itu ada yang amilnya boleh dibuang secara jawaz dan ada yang secara wajib. Contoh maf’ul bih yang amilnya boleh dibuang adalah: قَالُوْا خَيْرًا . dalam firman Allah:
وَقِيْلَ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوْا خَيْرًا
“Dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, apakah yang diturunkan Tuhan kalian ? Mereka menjawab: (Dia menurunkan) kebaikan.”

Kata خَيْرًا dalam ayat di atas dibaca nashab, berkedudukan sebagai maf’ul bih yang amilnya dibuang. Asalnya adalah قَالُوْا اَنْزَلَ خَيْرًا. Sedangkan Maf’ul bih yang amilnya wajib dibuang itu terdapat pada tujuh tempat. Tetapi dalam bab ini hanya disebutkan dua tempat saja, yaitu:
1. Pada Bab Isytighal. Pada dasarnya isytighal ialah mendahulukan isim dan mengakhirkan amil (fiil atau sifat) yang disibukkan dengan beramal pada dhamir isim yang mendahuluinya itu. Contoh:
زَيْدًا إِضْرِبْهُ
Zaid, pukullah dia olehmu
زَيْدًا أَنَا ضَارِبُهُ الْآنَ أَوْغَدًا
Zaid, sayalah yang memukulnya, sekarang atau besok.
زَيْدًا ضَرَبْتُ غُلَامَهُ
Zaid, telah saya pukul pembantunya.
وَكُلُّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَهُ طَئِرَهُ فِى عُنُقِهِ
Dan tiap-tiap manusia, telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya

Semua isim yang berada di permulaan dalam contoh-contoh di atas, dinashabkan oleh fiil yang wajib dibuang, yang dijelaskan oleh fiil yang jatuh sesudahnya. Bentuk susunan asli kalimat-kalimat di atas adalah sebagai berikut:
إِضْرِبْ زَيْدًا إِضْرِبْهُ
Pukullah Zaid, pukullah dia.
أَنَا ضَارِبٌ زَيْدًا أَنَا ضَارِبُهُ الْأَنَ اَوْغَدًا
Saya orang yang memukul Zaid, saya orang yang memukulnya, sekarang atau besok.

أَهَنْتُ زَيْدًا ضَرَبْتُ غُلَامَهُ
Saya telah menghina Zaid, saya telah memukul pelayannya.
أَلْزَمْنَا كُلَّ إِنْسَانٍ اَلْزَمْنَهُ طَائِرَهُ فِى عُنُقِهِ
Kami telah menetapkan tiap-tiap orang, Kami telah menetapkan amal perbuatannya pada lehernya.
sd
2. Di antara maf’ul bih yang amilnya wajib dibuang adalah munada’. Contoh:
يَا عَبْدَ اللهِ = Hai, Abdullah.
Bentuk susuna asli munada’ di atas adalah:
أَدْعُوْ عَبْدَ اللهِ = Saya memanggil Abdullah.
Fiil dan failnya, yaitu kata اَدْعُو , dibuang dan diganti dengan huruf nida’ yaa (يا), sehingga menjadi يَاعَبْدَ اللهِ.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
- Maf’ul bih ialah maf’ul yang dibaca nashob yang terkena pekerjaan fa’il dan berfungsi sebagai objek.
- Maf’ul bih terbagi menjadi dua, yaitu maf’ul bih isim dhohir dan maf’ul bih isim dlomir.
- Maf’ul bih isim dlomir dibagi lagi menjadi dua, yaitu dlomir muttasil dan dhomir munfashil yang masing-masing dibagi menjadi dua belas bagian.
- Posisi maf’ul bih dalam kalimat asalnya jatuh sesudah fail, terkadang mendahului fail, ada juga yang wajib mendahului failnya, dan terkandung maf’ul bih itu mendahului fiil dan failnya.
- Diantara maf’ul bih itu ada yang amilnya boleh dibuang secara jawas dan ada yang secara wajib.
- Maf’ul bih yang amilnya wajib dibuang itu terdapat pada tujuh tempat. Namun dalam makalah ini hanya disebutkan dua tempat, yaitu pada bab Isytighal dan munada’.

DAFTAR PUSTAKA

An-Nadhawi, M. Maftukhin Sholih. 1989. Imrithi. Surabaya : Putra Jaya.
Syamsuddin, Muhammad Arra’ini. 2002. Mutammimah Ajjurumiyah. Surabaya : Al-Hidayah.



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Maf’ul Bih 2
B. Posisi Maf’ul Bih Dalam Kalimat 4
C. Maf’ul Bih Yang Boleh di Buang Amilnya 5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 7
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan semua nikmat dan petunjuknya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pengampu mata kuliah Nahwu yang telah memberikan arahan terkait makalah ini. Tanpa bimbingan dari beliau kami pikir tidak akan dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan format yang berlaku.
Kami sadar bahwa makalah kami masih jauh dari kesempurnaan apa yang menjadi harapan dari dosen pengampu mata kuliah ini. Namun bisa sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit kami. Bukanlah kesalahan yang tersengaja apabila terdapat banyak kekurangan pada makalah ini, melainkan kekhilafan dari semua kelemahan kami kiranya dapat dimaklumi.
Demikian harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan menambah referensi baru sekaligus ilmu pengetahuan yang baru pula. Amiiin...

MAKALAH
MAF’UL BIH
Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas Nahwu














Dosen pengampu:
Drs. K.H. Muthohharun M.H.I.

Oleh kelompok 11
Naily Fatkhiyati Saidah
Nurul Istiqomah (B)
Fita Fitriyah





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
BAHRUL ‘ULUM TAMBAKBERAS
JOMBANG 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar