RSS

BUKU BIOGRAFI AL-FARABI DAN AR RUUMI

BIOGRAFI




(diadopsi dari Hidayah Edisi 26 Tahun 2003)




Abu Nasr Muhammad bin Al-Farabi
Dedikasi Tak Mengenal Lelah

Dalam setiap masa, selalu ada orang brilian yang layak di teladani. Dengan segala macam cara dan penemuan baru serta pemikiran cemerlang. Tanpa kenal lelah, mereka telah berusaha semaksimal mungkin untuk berkarya dan memberikan sesuatu yang terbaik bagi kemaslahatan umat manusia. Ini merupakan cara mereka untuk beribadah dan berjuang bagi kepentingan umat.
Figur seorang filsuf muslim yang namanya sudah tidak asing dalam dunia Islam. Nama lengkapnya: Abu Nasr Muhammad bin Tarkhan bin Awzalagh al-Farabi. Dalam teks-teks Latin di abad pertengahan, ia di kenal dengan nama Alfarabius atau Avennasar. Beliau lahir pada tahun 257 H / 870 M, di kampung Wasij di dalam wilayah Farab si seberang Sungai Sihun dan Jihun (Republik Turkistan sekarang). Ayahnya berasal dari Iran dan menjadi tentara kerajaan Samaniah dengan pangkat rendah. Sedangkan ibunya berasal dari daerah Turkistan. Dalam hal pendidikan keluarga, ayahnya sangat tekun mengajari anak-anaknya tentang ilmu bahasa dan ilmu agama, selain mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitaan dengan keduniawian.
Sejak kecil ia sudah menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa. Secara rutin Abu Nasr muda mengunjungi masjid kampung Wasij dan masjid kota Farab untuk menghafal Al-Qur’an dan belajar fikih, hadis dan tafsir. Tidak hanya itu, bahasa Persia, Turkistan dan Kurdistan menjadi pelajaran yang sangat ia senangi, disamping mengasah keahlian dalam membaca dan menulis bahasa arab.
Urusan duniawi tidak menjadi hal yang mendasar yang diperhatikan Abu Nasr. Sedikitpun ia tidak terpengaruh. Hal itu bisa dilihat dari kehidupannya yang sangat sederhana. Tempat tinggal, makan minum, dan urusan pakaian, semuanya serba sekedarnya. Ia lebih gemar memakai pakaian kebangsaan Turki yang ringkas dan tidak menonjolkan kemegahan dalam berbusana. Dalam urusan makan secara konsisten ia menerapkan Sunnah Nabi, hanya makan ketika lapar, dan berhenti sebelum kenyang.
Tiada hari ia lewatkan tanpa bertafakur dan berfikir, baik tentang hal-hal dunia maupun akherat. Jiwanya selalu gelisah dan mengembara mengikuti akalnya menjelajah. Jarang sekali ia pulang ke rumah keluarga atau sanak saudaranya. Waktunya banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis di taman, di pinggiran Sungai atau di atas Gunung. Tempat-tempat itulah yang menjadi saksi bisu pengembaraan jiwanya.
Suatu hari ayahnya menyempatkan diri duduk bersama dan berkata, “Sekarang kamu sudah besar, sudah hampir berusia 20 tahun, kamu lebih gemar kehidupan damai daripada kehidupan perang, kehidupan menyendiri daripada kehidupan bermasyarakat, bukannya ayah memintamu untuk jadi tentara atau pahlawan berkuda, tetapi ayah ingin kamu segera menikah dan meninggalkan kehidupan menyendirimu.”
Abu Nasr menjawab, “Ayah, saya bernazar, seluruh hidup saya ini akan dibaktikan untuk ilmu dan kehidupan ilmiah. Perkawinan dan anak merupakan masalah bagi seorang penuntut ilmu, karena bisa mengalihkan perhatian terhadap ilmu dan para ulama. Saya lebih senang hidup seperti ini dan bisa leluasa membaca kitab-kitab ulama zaman dahulu dan zaman sekarang.”
Ayahnya sangat kagum dengan prinsip yang dikemukakan Abu Nasr, lantas berkata, “Terserah kehendakmu! Semoga Allah SWT memudahkanmu untuk ilmu, dan memudahkan ilmu untukmu.”

Harta Amanah
Di Farab, tinggal seorang ulama yang kurang begitu terkenal, dikalangan para ulama, namun, ulama ini mempunyai banyak koleksi kitab, mulai dalam bidang logika, filsafat, musik, hingga bidang matematika. Separuh dari kitab itu ditulis dengan tangannya sendiri dan yang lainnya dibeli dari penjual kitab disepanjang pengembaraannya dari timur dan barat. Suatu hari ulama ini ingin mengembara satu kali lagi, namun bingung dengan keberadaan kitab-kitab di perpustakaannya yang tidak terjaga. Oleh karena itu, ia membawa semua kitabnya kepada Abu Nasr.
“Kamu adalah orang yang palin arif di Farab, dan mengerti nilai kitab-kitab ini,” kata ulama itu kepada Abu Nasr. “Setengah kitab ini berhubungan dengan bidang ilmu yang belum kamu ketahui, saya akan pergi dari kota ini untuk menyelesaikan beberapa urusan pribadi. Saya telah mencari kesana kemari seseorang yang dapat di beri amanah untuk menjaga kitab-kitab ini sampai saya kembali. Saya tidak dapat menemukan seorang pun, selain kamu yang sangat mencintai ilmu dan kitab-kitab. Kamu boleh memanfaatkan kitab-kitab ini selama saya pergi. Jika saya tidak kembali dalam masa 10 tahun, maka kitab-kitab ini menjadi milikmu. Saya tidak tahu lagi dimana saya akan menetap atau kapan ajal akan datang menjemput saya!”
Abu Nasr mengucap syukur dan merasa beruntung dengan adanya kitab-kitab peninggalan ulama yang musafir itu. Dengan tekun dan gembira, ia menelaah dan mempelajari kitab-kitab tersebut satu per satu. Kitab-kitab itu meliputi bidang filsafat, logika, matematima dan musik yang merupakan hasil karya ulama-ulama dari berbagai bangsa. Ada pula kitab terjemahan dari bahasa Yunani karangan Aristoteles dan Plato dalam bidang filsafat dan logika.
Masa 10 tahun telah berlalu, pemilik kitab tersebut tidak juga kembali dari pengembaraannya, selama masa itu Abu Nasr telah membaca kitab tersebut berpuluh-puluh kali. Bahkan kitab De Animus (perihal Roh) hasil karya Aristoteles, tercatat telah dibaca seratus kali. Ia begitu berkorban untuk mendapatkan ilmu. Semua kelelahan dan kebosanan di laluinya dengan sabar dan ikhlas. Setiap kali kitab itu dibaca ulang, beliau merasa menemui makrifat dan hakkikat yang baru. Ia sampai pada tingkatan mampu mengkritik, menambah dan membetulkan pendapat-pendapat dalam kitab-kitab itu dan membuat penjelasan (Syarah) perkara-perkara yang masih samar. Atas ketekunan dan kegigihannya, masyarakat di Farab memberinya gelar “Al-Farabi”, sebagai kebanggaan dan penghormatan terhadapnya.

Pengembaraan yang Abadi
Terinspirasi oleh ulama musafir yang mewariskan kitab-kitabnya, Al-Farabi pergi menjelajah mencari ilmu, melihat dunia dan bertemu para ulama, beliau sangat berhasrat untuk membeli, meminjam, atau menyewa kitab supaya dapat disalin dengan tulisannya sendiri. Wilayah jelajahnya meliputi Asia tengah, Iran dan Khurasan (Afganistan). Semua harta benda warisan ayahnya diberikan kepada kerabatnya. Beliau sudah merasa cukup kaya dengan jiwa dan ilmunya. Dimana saja berhenti, beliau meninggalkan sebuah kitab kepada seorang ulama atau menurunkan sebagian ilmunya kepada seorang penuntut ilmu yang namanya pernah beliau dengar.
Pada usia 50 tahun, tapatnya pada tahun 310 H / 922 M, ia memasuki kota Baghdad. Niatnya sudah bulat ingin menemui maha guru ilmu logika, yaitu Abu Bishir Matta bin Yunus. ulama-ulama di Siraz memberi tahu bahwa ia dapat bertemu dengan sang maha guru ini setelah sembahyang magrib di masjid besar Baghdad.
Pada pertemuan yang baru pertama kali terjadi, secara bergurau, Abu Bishir bertanya, “Abu Nasr! Apakah setelah berumur lanjut seperti ini kamu baru datang untuk belajar ilmu logika. Filsafat dan matematika?”
Al-Farabi menjawab, sambil tersenyum, “Tuan An-Nabighah Az-Zubyani, menghasilkan syair yang begitu indah dan bernilai seni tinggi setelah berumur 40 tahun. Ilmu itu harus kita cari mulai dari buaian ibu sampai liang lahat. Dalam bidang ilmu, saya telah membuat beberapa sumbangan dengan menulis syarah-syarah tentang ilmu logika dan filsafat. Namun harus di ingat bahwa setiap orang yang berilmu, tentu ada lagi orang yang lebih berilmu,” jawabnya diplomatis.

Penjaga Taman
Abu Bishir menjamu dan melayani Al-Farabi layaknya sebagai tamu kehormatan. Di sela-sela menikmati hidangan, Abu Bishir bertanya, “Apakah kamu mempunyai uang untuk hidup sehari-hari? Atau kita harus meminta sumbangan dari baitul Hikmah, Baitul Mal atau dari penguasa yang menaungi ilmu dan para ulama?”
Al-Farabi menjawab, “Tuan tidak perlu bimbang tentang kehidupan sehari-hari saya. Saya masih ada beberapa Dinar. Lagi pula saya lebih suka bekerja mencari nafkah daripada bergantung kepada belas kasihan orang lain. Sejak bertahun-tahun lalu, saya memilih suatu pekerjaan yang tidak menghalangi saya berfikir, belajar dan mencari ilmu, yaitu sebagai penjaga Taman.”
Abu Bishir berseru dengan heran, “Apa? Kamu bekerja sebagai penjaga taman? Berapa kamu di beri upah sebagai penjaganya?”
Al-Farabi menjawab, “Empat puluh dirham, cukup untuk makan minum selama sebulan, membeli makanan keledai, sisanya untuk membeli kertas dan tinta. Taman itu tidak banyak memerlukan penjagaan kecuali pada malam hari. Oleh karena itu, saya menjaga taman malam hari, dengan ditemani cahaya lilin tanpa memejamkan mata sehingga matahari terbit. Kemudian saya tidur selama tiga jam, setelah bangun langsung menyiapkan sarapan, kemudian keluar menemui para ulama.”
Abu Bishir kini maklum, bahwa dia berhadapan bukan dengan ulama sembarangan. Al-Farabi merupakan ulama yang memilih hidup membujang daripada beristri dan mempunyai anak. Ia merupakan seorang ulama yang menumpahkan seluruh pikiran dan jiwanya untuk mencari ilmu. Al-Farabi adalah seorang yang telah membebaskan rohnya dari nafsu syahwat dan harta benda. Beliau memilih suatu pekerjaan yang belum pernah dilakukan oleh ulama-ulama sebelumnya, yaitu penjaga taman.
Selanjutnya, selain mempelajari logika dan filsafat kepada Abu Bishir, ia juga mendalami ilmu Nahwu dan Sharaf kepada Abubakar As-Sarraj. Ia mempelajari kamus Al-Ain karangan Al-Khalil bin Ahmad, yang merupakan kamus bahasa pertama yang ditulis dengan berbagai bahasa di dunia. Ia juga mempelajari Al-Kitab, karangan Sibawaih dalam bidang Nahwu, tak ketinggalan dalam bidang lain seperti Balaghah (Ritorika). Ia mempelajari semua itu dalam rentang waktu dua tahun. Penguasaan Al-Farabi dalam ilmu bahasa Arab membuatnya dapat menciptakan istilah bagi istilah Yunani atau Persia dalam bidang logika, filsafat, matematika dan musik.
Al-Farabi melanjutkan pengembaraannya ke Harran (di barat daya Turki sekarang). Kota ini merupakan salah satu pusat keilmuan islam khususnya dalam bidang logika, filsafat, pengobatan dan penerjemahan ilmu-ilmu Yunani ke dalam bahasa Arab. Tujuan perjalanannya untuk menemui seorang lagi tokoh ilmu logika, filsafat, pengobatan yang menetap di Harran yaitu Yuhanna bin Hilan.

Ujian di Kota Aleppo
Al-Farabi melanjutkan perjalanannya ke kota Aleppo di Syria setelah 10 tahun menetap di Baghdad. Di kota ini Amirnya bernama Syaifud Daulah yang terkenal sangat mencintai ilmu, para ulama, penyair penulis dan ahli keduniaan.
Pertama kali dalam hidupnya, ia menghadap Amir yang notabene sebagai pemerintah. Sang Amir terlihat sedang duduk di singgasana tinggi dengan di kelilingi para ulama di kiri kanannya. Al-Farabi di minta duduk seperti ulama-ulama lainnya. Namun beliau tidak menurut perintah tersebut. Beliau berkata, “Siapa yang akan duduk di situ, Tuanku atau saya? Sang Amir berseru, “Kamu!” tetapi Al-Farabi tidak menghiraukan semua itu dan berjalan lalu duduk di singgasana bersebelahan dengan sang Amir. Atas tindakannya ini, Al-Farabi, harus di uji untuk menjawab berbagai hal yang ditanyakan oleh para ulama-ulama lain, apabila ia tidak bisa menajwab, hukuman nya akan di bunuh.
Para ulama bertubi-tubi mengajukan berbagai persoalan kepada Al-Farabi dalam bidang Fikih, Hadis, tafsir, ilmu kalam dan ilmu bahasa, ditambah dengan pertanyaan seputar logika, filsafat dan matematika. Al-Farabi dengan mudah, lancar dan mendalam sambil menyebut hujjah-hujjah dan contoh-contoh menjawab semua persoalan yang diajukan. Akhirnya jawabannya menjadi sebuah kitab yang di beri judul “Risalah fi jawabil Masa’il Su’ila anha al-Farabi (risalah tentang jawaban kepada persoalan-persoalan yang dia ajukan kepada Al-Farabi).

Puncak Kematangan Ilmiah
Puncak kematangan ilmiah diraih Al-Farabi ketika mencapai usia 60 tahun. Beliau masih tegap, sehat dan sangat baik penglihatannya. Dalam bidang logika ia menulis beberapa jilid tentang buku Organon-nya Aristoteles. Jilid-jilid tersebut kebanyakan masih berupa manuskrip dan bisa ditemukan di banyak perpustakaan Arab dan negera-negara lain.
Ia banyak menulis tentang kitab-kitab yang berkenaan dengan bidang filsafat, fisika, matematika, metafisika, akhlak dan politik. Kebanyakan kitab ini sampai kepada kita, dicetak dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa modern di dunia. Al-Farabi menulis dengan sangat teliti dan padu sehingga tidak terdapat unsur-unsur pengulangan. Makna-makna yang padat diungkap menjadi perkataan yang ringkas. Ia tidak mensyarahkan persoalan yang sudah menjadi pengetahuan umum, sebaliknya ia hanya mensyarah topik-topik serta peristiwa-peristiwa yang utama saja. Semua itu ia niatkan untuk memudahkan ulama-ulama lain agar tidak membuang masa hidupnya hanya untuk mensyarah persoalan-persoalan yang biasa.
Selama di Baghdad, Al-Farabi merangkum berbagai persoalan yang terjadi ke dalam dua buah kitab, yaitu At-Tanbih ala sabili as-Sa’adah (menyadarkan orang kepada jalan kebahagiaan) dan Ara ahl al-Madinah al-Fadhilah (pendapat warga kota sempurna). Di samping itu, ia menulis kitab tidak kurang dari 70 kitab dan risalah tentang topik-topik yang unik, tanpa unsur-unsur pengulangan di dalamnya.
Karya-karya Al-Farabi dalam bidang logika antara lain: 1) At-Tawti’afi al-Matiq, di edit oleh Mr. Turker dengan terjemahan bahasa Turki (Ankara-1958 M) 2) Introductory Section on Logic, edisi bahasa Inggris, oleh DM. Dunlop (1995 M), sedang edisi bahasa Turki Oleh M. Turker (Ankara 1958 M) 3) Treatise in The Canons of Art of Poerty, edisi bahasa Inggris oleh AJ. Arberry (1938) sedang teks bahasa Arabnya di cetak ulang oleh A. Badawi (Cairo 1953 M). karyanya di bidang fisika antara lain: 1) Against Astrology di edit oleh F.Dieterisi (Lieden 1890 M). sedang terjemahan dalam Bahasa Jerman terbit tahun 1892 M. 2) De Intelectual (Fi al-Aql) buku ini terdapat edisi kritik pleh M Bouyges (Bierut 1936 M) sedang versi bahasa Latinnya dikerjakan oleh E. Gilson (1929 M). dalam bidang Metafisika antar lain: 1) About the Scope of Aristoteles Metaphysics, di edit dan di terjemahkan dalam bahasa Jerman oleh F. Dieterici. 2) one the one (Fi al-Wahid wa al-Wahdah). Edisi kritik dan terjemahannya dalam bahasa Inggris dikerjakan oleh H. Mushtaq.
Mahakarya Al-Farabi yang paling monumental adalah Ihsa al-Ulum (Ensiklopedi ilmu) yang di sunting dan diterbitkan di Kaherah oleh DR. Uthman Amin. Kitab ini mengumpulkan semua ilmu Al-Farabi dalam berbagai bidang. Karya ini merupakan Ensiklopedi pertama dalam sejarah pemikiran Islam, bahkan dalam sejarah pemikiran umat manusia. Di dalamnya di jelaskan ilmu-ilmu yang terkenal pada zamannya satu demi satu, bagi setiap bidang ilmu, ia jelaskan cabang-cabangnya juga.
Al-Farabi meninggal di Damaskus pada tahun 339 H / 950 M dalam usia kurang lebih 80 tahun. Namun hingga kini, karya-karyanya masih terus dipelajari orang dan menjadi rujukan dalam berbagai bidang. Sudah selayaknya kita dapat mengambil tauladan dari perjalanan hidupnya dan mencontoh dedikasinya yang tak mengenal lelah.
(Tulisan ini diadaptasi dari Hidayah Edisi 26 Tahun 2003)



Biografi

Sang Penyair Sufi



(Referensi Kisah dari Alkisah Nomor 03 / 2-15 Februari 2004)

Jalaluddin Rumi
Menggapai Cinta Ilahi dengan Menari

Ia sufi besar, Penyair besar, dan Fuqaha yang Handal. Ia mendirikan tarekat Darwisy Berputar yang terkenal dengan tarian ritualnya.
Puisi karya Jalaluddin Rumi dikenal luas, dan menjadi sumber rujukan bagi setiap kajian mengenai dunia sufi selama beberapa abad terakhir. lahir pada 30 September 1207 M di Balkh (kini Afganistan) dari keluarga Bangsawan. Ayahnya Baha’ Walad, adalah seorang Fuqaha (ahli Fiqih) yang juga sufi dan mengajar syariat di masjid dan tempat umum lainnya.
Meski Baha’ menikah dengan wanita Bangsawan, ia menentang kibijakan Sultan Kharazmashan ketika itu. Mula-mula Sultan selalu menghadiri pengajian Baha’, tetapi karena pembelotan Baha’ dan cemburu, gara-gara Baha’ kian populer di mata rakyat. Sultan tidak lagi hadir . belakangan Sultan mencurigai ajaran Baha’ dan akhirnya Baha’ dianggap sebagai musuh.
Ketika Rumi berusia 12 tahun, pada tahun 1219 M, bangsa Mongol menguasai Balkh, sehingga Baha’ sekeluarga hijrah sekaligus menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan tidak pernah kembali ke Balkh. Dalam perjalanannya, Baha’ mampir ke Nishapur dan bertemu dengan ulama dan penyair sufi, Fariduddin Athar. Melihat Rumi kecil Athar berkomentar, “Anakmu tidak lama lagi akan menjadi api yang membakar para pecinta Allah diseluruh dunia.” Athar menghadiahi Rumi sebuah kitab karyanya, Asrarnama (kitab rahasia), yang berisi prinsip-prinsip sufisme melalui kisah dan Fabel, yang kelak sangat mempengaruhi karya-karya Rumi.
Usai menunaikan ibadah haji, Baha’ singgah di kota kecil Larnada di Konya, Turki. Raja Konya, yang sangat menghargai ilmu pengeatahuan dan filsafat serta mendukung kegiatan kaum terpelajar, menulis surat kepada Baha’ , isinya, tawaran bagi keluarga Baha’ untuk tinggal sekaligus mengajar di perguruan tinggi Konya. Baha’ menerima taearan tersebut.
Berkat keahliannya dalam ilmu agama dan kedekatannya dengan penguasa, Baha’ menjadi orang terhormat dan mendapat gelar “Sulthan al-Ulama”. Sementara itu Rumi yang mulai menginjak usia remaja terus belajar berbagai ilmu: Tata Bahasa dan Sastra Arab, sejarah, logika, matematika, Astronomi, Filsafat dan Tasawuf.
Baha’ Walad wafat pada tahun 1231 M, ketika Rumi sudah menguasai berbagai ilmu. Ketika berusia 24 tahun, Rumi sudah menggantikan tugas-tugas almarhum ayahnya sebagai Muballigh dan Fuqaha. Namanya pun segera masuk ke dalam daftar para Fuqaha yang menjadi rujukan para ulama mazhab Hanafi.
Sultan Al-Faqir
Perkenalan Rumi dengan Tasawuf berkat bimbingan ayahandanya. Belakangan salah seorang murid kesayangan ayahnya, Burhanuddin Tirmizi, datang ke Konya untuk mengunjungi gurunya, tetapi Baha’ sudah wafat. Akhirnya, Tirmizi mengajarkan Tasawuf kepada Rumi hingga ia meninggal pada tahun 1240 M.
Tak lama kemudian Rumi menduduki jabatan terhormat di Universitas Konya. Meski diakui juga sebagai guru sufi, kehidupan sehar-harinya tetap seperti biasanya. Kadang-kadang ia membahas materi spritual dalam khotbahnya, namun dalam kehidupan sehari-hari ia tidak pernah menunjukkan kelebihannya dibanding para Fuqaha yang lain. Tetapi ketika Syam Tabrizi yang mendapatkan gelar Sultan al-Faqir datang, semuanya berubah. Ada beberapa versi yang mengisahkan pertemuan antara Rumi dan Tabrizi. Dua kisah berikut paling sering diceritakan.
Pada suatu hari, sesosok kumal mengikuti pelajaran Rumi masuk ke ruang kelas tempat Rumi mengajar di Universitas Konya. Tanpa basa basi, Tabrizi yang kumal itu bertanya, “Siapa yang lebih agung, Bayazid Bistami atau Nabi Muhammad?”
Rumi menjawab, “Nabi Muhammad adalah orang lebih agung.” Lalu kata Tabrizi, “Bukankah Nabi bersabda, “Ya Allah, aku belum mampu memuji-Mu dengan pujian sebagaimana engkau memuji diri-Mu”, Sedangkan Bayazid berkata, “Betapa Agung muaraku, kemuliaan datang kepadaku ketika aku diangkat, akulah yang derajatnya ditinggikan.”
Tabrizi, yang melihat Rumi tidak mampu menjawab pertanyaan itu, kemudian menjelaskan bahwa kehausan Bayazid akan sifat-sifat ketuhanan dipuaskan ketika ia minum seteguk air, sedangkan hausnya Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah terpuaskan karena Nabi selalu haus akan air pengetahuan ketuhanan yang lebih banyak. Mendengar itu Rumi menjatuhkan diri di kaki Tabrizi, lalu menangis tak sadarkan diri. Ketika sadar, kepalanya tergeletak di pangkuan Tabrizi yang sedang duduk. Tak lama kemudian, kedua lelaki ini mengasingkan diri bersama-sama selama tiga bulan.
Versi lain, agak berbeda, tetapi punya arti serupa. Suatu hari Rumi sedang duduk di perpustakaan pribadi bersama sekelompok murid yang berkumpul di sekelilingnya mendengar pelajarannya. Tiba-tiba seseorang berpakaian kumal masuk dan duduk. Ia menunjuk buku-buku di sudut ruangan, katanya, “Apa itu?”
Rumi yang mengira orang itu adalah pengemis, menjawab, “Engkau tidak akan mengerti.” Mendadak, muncul api berkobar dari rak buku. “Apa itu?” Rumi berteriak panik. Dengan tenang Tabrizi berkata, “Engkau pun tidak akan mengerti,” lalu ia pergi. Rumi kembali berteriak dan mengejar Tabrizi. Rumi kemudian meninggalakn tugasnya mengajar, dan bertapa bersama Tabrizi.
Tarian Sufi
Tak seorangpun tahu apa yang diajarkan Tabrizi kepada Rumi di pengasingan. Yang kemudian diketahui orang ialah, Rumi yang ketika itu berusia 38 tahun, muncul dengan segala keanehan. Dia tidak lagi memberi ceramah agama dan memimpin doa melainkan membimbing tarian sufi. Rumi yang semula tidak punya latar belakang kepenyairan, mulai menulis puisi yang sangat indah, untuk mengekspresikan cintanya kepada Allah.
Puisi-puisinya sangat menyentuh, ciri khasnya secara jelas menunjukkan, penampakan luar hanyalah selubung yang menutup makna di dalam. Karya utama yang diakui sebagai salah satu buku luar biasa di dunia ialah Matsnawi-I-Ma’nawi (untaian puisi dua baris) yang terdiri dari enam jilid, terdiri dari 25 ribu puisi panjang dan merupakan mutiara ajaran sufi.
Matsnawi-I-Ma’nawi ditulis atas permintaan Husainuddin Khalabi, murid kesayangannya. Rumi mengucapkan puisi dan Khalabi yang menuliskannya. Setelah selesai ditulis selama dua tahun, Khalabi membacakannya kembali dihadapan Rumi. Beberapa karya Rumi merupakan kumpulan anekdok dan kisah sehari-hari yang berkaitan dengan moral Islam, yang juga merupakan repsentasi spritual yang tenang dalam memaparkan berbagai dimensi kehidupan dan latihan rohani.
Rumi menulis Diwan-I-Tabrizi, terdiri dari 3.200 Ghazal (bait), meliputi 35 ribu puisi, 44 ribu Ta’rifat (puisi yang terdiri dari dua gahzal atau lebih). Diwan dan Matsnawi merupakan buku wajib bagi murid-murid Rumi. Sebagian besar puisi dalam Diwan menggambarkan pengalaman spritual Rumi. Misalnya, persatuan dan perpisahan dengan Allah, yang dilukiskan melalaui berbagai simbol dan perumpamaan metafisik. Rumi menggambarkan pengalaman pendakian terjal ke langit (pencapaian dan kedekatan dengan Allah) melalui “Mabuk Spritual.”
Karya monumental lainnya ialah kumpulan pelajaran yang disampaikan oleh Rumi kepada murid-muridnya di meja makan. Di tulis dalam bentuk prosa, Fihi ma Fihi. Isinya menjelaskan berbagai dimensi ajaran sufi secara terperinci melalui sejumlah analogi dan perbandingan. Karya prosa lainnya. Majlis-I-Sab’ah (tujuh pertemuan), kumpulan khotbah pendek yang ditujukan kepada masyarakat umum. Kitab lainnya, Mahatib, kumpulah 145 surat untuk para Pangeran dan Bangsawan Konya.
Madonna Dan Demi Moore
Karya-karya Rumi banyak diterjemahkan oleh penulis barat. Dalam Amazon.Com, situs toko buku on-line terbesar, hanya dalam hitungan bulan tak kurang dari ratusan buku puisi Rumi di terbitkan, dan sangat laris. tidak hanya itu, sudah beberapa kali festival baca puisi Rumi di gelar. Tak tanggung-tanggung, bintang-bintang Hollywood seperti Pop Star Madonna, Aktris Demi Moore dan Goldie Hawn, ikut membacakan puisi sufi tersebut.
Yang termasuk laris antara lain The Essential Rumi, kumpulan puisi terjemahan Coleman Barks. Kemudian sebuah buku suntingan pasangan suami-istri Camille Adams Helminski dan Edmund Kabir Helminski yang telah diterjemahkan ke dalasm bahasa Indonesia dengan judul: Rumi, pesona suci dunia Timur.
Beberapa karya Rumi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (melalui bahasa Ingris), antar lain, Dunia Rumi: Hidup dan Karya Penyair Besar Sufi, karya Annemare Schimmel (pustaka Sufi), Jalan cinta sang sufi, karya William C. Chittick (penerbit Qalam), Firdaus Para Sufi, karya Dr. Javad Nurbaksh, Rajawali Sang Raja, ditulis oleh Jhon Renard (serambi), Menari bersama Rumi, oleh Denise Breton dan Christoper Legent, dan masih banyak lainnya.
Sebagai guru sufi, Jalaluddin Rumi dikenal dengan tarekat yang menjalani ritusnya dengan berputar-putar menari, karena proses pendekatan diri kepada Allah dilakukan dengan menari berputar-putar, di iringi musik, instrumen musiknya bisa berupa Gitar khas sufi, atau bisa juga semacam Drum. Untuk mencapai “Cinta Prima kepada Allah”, mereka terus berputar ratusan kali dalam waktu cukup lama. Mereka ternyata tidak merasa pusing, justru semakin cepat dan lama berputar, mereka akan semakin menemukan “Cinta Alahi”.
Hingga kini ritus kaum tarekat ajaran Rumi dengan berputar menari itu masih diamalkan oleh para pengikutnya, dan berkembang ke Afganistan, Pakistan, Timur Tengah, Afrika, Eropa,bahkan Kuba. Beberapa koreografer tari modern dan teater Kontemporer juga mengemas tarian berputar dalam karya-karya mereka. Namun, nuansanya sudah berbeda.
Inspirator Kebangkitan Spiritual
Ada yang mengenalnya sebagai penyair, ada yang mengenalnya sebagai penari, ada yang mengenalnya sebagai ulama, ada yang mengenalnya sebagai sufi, namun lebih dari semua itu, Jalaluddin Rumi adalah seorang Maestro
Kendati sudah lebih dari 700 tahun setelah meninggalnya, namanya hingga kini masih mampu memberi warna bagi kehidupan masyarakat dunia yang sudah serba canggih ini. Bahkan sejak satu dekade belakangan ini puisi-puisi Rumi menjadi karya seni yang paling banyak dibaca di Amerika Serikat. Karya Rumi yang dihimpun oleh Coleman Barks dalam buku yang berjudul The Essential Rumi menjadi buku puisi terlaris di Amerika Serikat pada tahun 1997, menurut The Christian Science Monitor.
Dona Karan, perancang mode terkemuka asal New York, menjadikan Rumi sebagai sumber inspirasinya ketika menggelar peragaan busananya musim panas tahun 1998 lalu. Sampai saat ini, karya-karya Rumi telah diterjemahkan ke berbagai bahasi di dunia, termasuk Rusia, Jerman, Prancis, Italia dan Spanyol, bahkan telah dikembangkan secara kreatif dalam berbagai bentuk ekspresi, seperti Konser, pertunjukan tari, berbagai bentuk bacaan dan sebagainya.
Kini ketika berkembang pemahaman yang keliru terhadap dunia Islam, peranan Rumi sebagai simbol pengusung nilai-nilai universal dalam Islam menjadi semakin relevan.
Walaupun kecemerlangannya bag cerita-cerita dongeng, namun sesungghnya terdapat begitu banyak tantangan dan kepahitan hidup yang harus di lalui sebelum Rumi tumbuh menjadi sosok seperti yang di kenal orang sekarang.
Dalam usia 24 tahun Rumi tumbuh tidak saja sebagai intelektual Islam terkemuka, tetapi juga ahli di bidang hukum, sejarah dan sastra. Sesudah ayahnya mwninggal, pada 1231, Rumi menggantikan ayahnya sebagai profesor dalam ilmu-ilmu agama.
Namun, manjadi tokoh intelektual penting, ternyata tidak menjadi titik akhir pencapaian dalam hidup bagi Rumi. Dalam dirinya masih bergolak kegelis`han yang amat dahsyat.
Ketika itulah saat Rumi berusia kira-kira 37 tahun, muncul sang Darwish, Syam dari Tabriz. Syamsuddin At-Tabrizi, yang namanya kira-kira berarti, “Surya keagamaan”, ternyata mampu membawa pencerahan bagi jiwa Rumi yang sedang bergolak. Selama lebih dari 2 tahun, sang Mursyid dan sang Murid, mabuk dalam cinta Ilahi. Ibarat api, kedekatan dengan sang Mursyid sanggup “Membakar” Rumi hingga sang muridpun ikut menyatu dalam nyala api Ilahi.
Sejak saat itulah Rumi tidak lagi dikenal sebagai ahli tentang agama dan ketuhanan. Ia tidak lagi mengandalkan pemahaman rasional belaka untuk menjelaskan tentang Tuhan, melainkan mengajak pengikutnya untuk langsung merasakan kebesaran Tuhan dengan masuk kedalam cinta.
Kedakatan Rumi dengan sang Guru, tidak mudah dipahami oleh banyak kalangan, termasuk bagi mantan pengikut-pengikut Rumi serta mereka yang tidak memahami hubungan spritual antara Mursyid dan Murid. Bagi kaum sufi, hubungan istimewa semacam itu merupakan ajakn dari seorang guru untuk membuyka hati seorang murid agar merasakan kehadiran Tuhan. Namun tidak sedikit yang menganggap keputusan Rumi tinggal serumah dengan sang Guru sebagai sebuah percintaan yang di dasari ketertarikan seksual belaka.
Rumi membuktikan bahwa hubungannya dengan sang Mursyid bukan sebuah hubungan rendahan, terutama setelah secara misterius Syams menghilang pada sekitar tahun 1247. Berbagai dugaan mengatakan bahwa Syams di bunuh oleh pengikut atau bahkan anak Rumi sendiri yang tidak mau Rumi terus berhubungan dengan sang Guru itu. Lewat karya-karyanya sepeninggal Syams, Rumi menunjukkan tingginya nilai spritual dari hubungannya dengan sang Mursyid. Misalnya dalam sajak berikut:
Siapapun yang pernah mendengar tentangKu,
Biarlah ia menyiapkan diri dan menemuiKu
Siapapun yang menginginkanKu,
Biarlah ia mencariKu
Ia akan menemukanKu
Lalu biarkan ia untuk tidak memilih yang lain selain Aku
Syams dari Tabriz
Divani Syamsi Tabrizi atau “Sajak-sajak Syams dari Tabriz” serta Masnawi adalah karya-karya monomental Rumi yang dilahirkan setelah kepergian Syams. Masnawi yang terdiri dari 6 jilid menjadi salah satu leteratur dan pemikiran yang amat berpengaruh dalam dunia Islam.
Semua karya Rumi, dari Sajak hingga Tarian Sufi (Whirling dance) yang dipopulerkannya, sebetulnya merupakan berbagai bentuk kreatif dari sebuah ide yang mendasarinya, cinta Ilahi.
Cinta bagi sebagian orang dianggap sebagai “Tema Usang” dapat dibuat segar lewat karya-karya Rumi, bahkan mampu membakar mereka yang mendengarkan atau yang membacanya. Di tengah situasi perang dan kekacauan pada zaman Rumi, sajak-sajak cintanya sungguh menguatkan tali persaudaraan. Tariannya sanggup meleburkan ego mereka yang menarikannya.
Bagi Leslie Wines, penulis Rumi A Spritual Biography (lives I Legacies), misalnya, sajak-sajak Rumi memungkinkan kita menjalani hidup keseharian dengan penuh rasa bahagia. Hal ini sebenarnyasangat relevan dalam masyarakat modern sekarang ini, yang menurut Leslie, “Meskipun canggih secara teknologi, tapi terpecah belah secara sosial.”
Rumi tidak hanya bicara lewat karya, tetapi terutama lewat kehidupannya. Pemahamannya akan citra Ilahi yang universal membuatnya tak lagi dapat mengkotak-kotakkan manusia. Ia berhubungan baik dengan berbagai macam orang dengan aneka ragam latar belakang. Saat kematiannya, selama 40 hari penuh warga Muslim, Kristen, Yahudi, Yunani dan Persia tak henti-henti menangisi kepergiannya.
Dialah tokoh yang utuh, yang memberikan tempat bagi cinta untuk mewarnai seluruh hidup dan karyanya. Karya-karyanya dapat menjadi inspirasi, seperti kata Andrew Harvey, seorang penulis, “Rumi merupakan penunjuk jalan utama bagi zaman kebangkitan baru yang sedang berjuang untuk bangkit saat ini. Ia adalah inspirasi spiritual di abad ke 21.”
* (Referensi Kisah dari Alkisah Nomor 03 / 2-15 Februari 2004)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar