RSS

BUKU SYAIR SUFI

Mbah Duan

Syair-syair
 Syair Sufi
 Syair Cinta






Syair-syair
 Syair Sufi
 Syair Cinta
Penulis :
• Mbah Duan ( Moh Ali Ridwan )
• Mbah Mad
Penyusun :
Moh Ali Ridwan
Penerbit :
Pustaka Mojo



Sekapur Sirih
Alhamdulillahi robbil ‘alamin segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang telah memberikan rohmat,hidayah dan inayahNya pada kita semua sehingga sampai saat ini kita semua masih dalam keadaan sehat , kuat dan yang terpenting dalam keadaan iman dan islam.
Sholawat dan salam semoga tetap terhaturkan pada junjungan kita nabi agung, penebar rohmat dan penyebar benih kesucian cinta Yaitu Nabi Muhammad SAW. Pun kepada keluarga, para sahabat, tabi,in dan semua kaum muslimin muslimat.
Penulis adalah Mahasiswa dan santri tambakberas Bisa dikatakan juga bahwa penulis adalah seoarang pujangga cinta. dalam sejarah dan biografinya bisa kita ketahui bahwa penulis adalah sesosok tokoh dan sang pengelana yang mencari cinta.
Dalam buku ini penulis menukil sebagian besar isi hati dan perjalanan pengelanaannya dalam mencari cinta. Ia ungkapkan dan ia tulis dalam bentuk syair – dan puisi. Juga penulis menukil dari beberapa syair-syair kondang baik dari para sufisme atau pun dari pujanga cinta seangkatannya.
Yang jelas dengan buku ini secara tidak langsung penulis mengajak para penbaca dan para pengelana dalam dunia yang fana ini untuk selalu berusaha :
1. Koreksi diri dalam segala hal
2. Berkaca pada masa lalu
3. Menatap dalam masa depan
4. Bercita-cita tinggi
Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan buku cetakan ini. Baik dari segi bahasa, keindahan atau uslub-uslub yang ada. Maka dari itu penulis sangat berharap saran,masukan serta bimbingan dari para pembaca untuk menyumbangkan idenya, partisipasinya dan pikiran-pikiran guna untuk lebih memperbaiki buku ini.
Akhirnya kami hanya mohon pada Allah SWT semoga buku ini memberi manfa’at pada kita semua dan khususnya pada semua santri terkhusus santri pondok pesantren kyai mojo tambakberas Jombang. Sehingga dapat mengantar dan mengkder anak-anak didik yang bermanfa’at,berguna bagi masyarakat bangsa dan Negara. Aamiin ya Robbal “alamin.
Jombang,25 Februari 2011
Penulis :

Moh Ali Ridwan


Biografi Penulis

A. Latar Belakang Keluarga

Di daerah pedalaman kota Tuban, yang jauh dari keramaian , yang masih murni daerah pedesaan, sebuah daerah yang dikelilingi empat muara pencarian sandang pangan, lautan, hutan, pegunungan dan lahan sawah dan perikanan ( tambak ) tepatnya di pelosok desa Mlangi kec Widang Kab Tuban. Lahirlah seorang anak kecil , mungil dan calon penerus keluarga, Ustadz Moh Ali Ridwan bin Supardi bin Sagi bin Sarimo bin Kasira pada Kamis legi malam 2 Muharrom 1408 H / 27 September 1987 pukul 21.00 WIB.
Dari jalur lain penulis adalah keturunan kyai dan Mudin kondang di desa itu, yang bersilsilah Moh Ali Ridwan bin Supardi bin Kona binti Mudin Sulaiman.
Ayahanda Beliau adalah seorang santri salaf yang mata pencahariaan kesehariannya adalah petani. Sifat Zuhud dan sifat jujurnya sang Ayah lah yang tidak bisa kita pungkiri kehebatannya sehingga putra pertamanya seperti yang kita ketahui ini. Dalam menjalani pekerjaannya sang Ayah sangat konsekuen, saat jadi Kuli atau buruh Ia selalu menjalani sesuai dengan syari’at islam yang umumnya di desa tersebut sudah tidak lagi dihiraukan. Pada umumnxa buruh itu berangkat ke sawah pukul 06.00 dan pulang pukul 17.00 dengan istirahat sholat dhuhur secukupnya, akan tetapi kebudayaan tersebut seakan puna di daerah-daerah itu. Para buruh cenderung korupsi waktu baik waktu brangkat istirahat dan pulangnya.
Namun sang Ayah lain daripada buruh-buruh yang lain, sehinga banyak para juragan yang suka dan ingin mempekerjakannya. Dan dari titik ketawadlu’an pada sang guru, pada sang Kyai , ayahanda cenderung secara totalitas mencurahkan ketawadlu’anya, sehingga walau bekerja sbagai buruh di sawah Pak Yai sang Ayah tidak lah pernah menuntut upah.
Dari Ayah tersebutlah tidak heran jika di lahirkan sesosok seperti al-Ustadz Ali atau biasa dipanggil ustadz Duan, bahkan populernya dengan panggilan Mbah Duan.

B. Sejarah Pendidikan
Ditengok dari kacamata pendidikan dan pembelajaran, penulis tidak jauh beda dengan anak-anak sezamannya. Akan tetapi orang tua memberikan pendidikan yang lebih pada penulis . sebelum menginjakkan kaki di bangku TK ( taman kanak-kanak ) penulis sudah dibekali berbagai ilmu oleh orang tuanya. Sang ayah adalah orang tua yang keras dalam hal pendidikan. Semua jadwal anak pertamanya ini di tata sedemikian rupa mulai bangun tidur, membantu orang tua di sawah, belajar, mengaji dan ngumawulo pada Sang Guru Agung KH. Abdul Mukti kyai desa Mlangi.
Begitu disiplinnya masa hidup sang penulis maka tidak heran jika penulis pun punya watak yang keras terutama dalam ngaji, dan belajar.
Penulis adalah siswa yang tertinggal di kala itu. Karena pertimbangan orang tua terhadap kemampuan si Penulis sehingga dalam usia ke-6 tahunnya beliau belum masuk dalam pendidikan TK , baru dalam usia ke – 7 beliau masuk sehingga secara hitungan rata-rata usia si penulis 1 tahun tertinggal dengan anak-anak yang lain.
Mulai saat itulah tampak nyata bakat dan kehebatan sang penulis, mulai pendidikan TK sampai Pendidikan Dasar ( SD ) penulis selalu meraih label siswa terbaik. Sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah Darul Ulum II selama tiga tuhun penulis juga masih menduduki urutan pertama, sampai pada ujian akhir tingkat Mts.
Dari segi pendidikan agama, sang ayah justru lebih menekankannya, terutama dalam hal ngaji-mengaji. Tiap hari ada jadwal khusus bagi sang anak untuk jadi muadzin di musholla pak yai. Sekitar tahun 1997/1998 penulis mulai memasuki jenjang pendidikan TPA ( taman pendidikan Al-Qur’an ) kemudian Diniyyah dan sorokan pada pak Yai dan para asatidz. Pun tidak kalah hebatnya , bakat dan kecerdasan sang penulis mulai bermunculan satu persatu, dalam tiap moment penting dalam perjalanannya selalu beliau gapai hasil yang baik dan sempurna. Dalam tiap lomba pid`to beliau selalu meraih juara satu dan seterusnya.
Bagi sang Ayah , melihat sekelumit perjalanan si anak ( penulis ) yang naik berkembang dengan sempurna beliau hanya tersenyum bahagia , akan tetapi tidak sampai situ saja. Sang Ayah menaruh cita-cita tinggi dalam diri si anak. Beliau selalu berpesan pada anaknya, “ jadilah orang yang lebih hebat dari bapak “ dan “ janganlah kamu berfikir bekerja atau membiayai orang tua tanjakkan kakimu dan raih lah cita- citamu “. Begitu singkat dan jelas pesan sang ayah kepada penulis.
Singkatnya, sang ayah memasrahkan langkah si penulis pada Pak Yai. Disinilah awal mulai perjalanan sang penulis di dunia luar. Seperti maqolah imam Syafi’I “ belum sempurna seorang penuntut ilmu sebelum ia memberanikan diri berpisah dari keluarga dan menuntut ilmu di daerah luar”.
Perjalanan penulis terukirdan mulai menapak di dunia pesantren. Melewati sang guru Syeh Afandi penulis dikirim ke sebuah daerah yang unik, di sebuah pesantren Kyai Sufi di daerah Petengan ,tepatnya utara Tambakberas yang berpusat Pondok Pesantren terbesar di Jombang yaitu Bahrul Ulum.
Sekilas jika ditengok dari Sejarah Sekitar tahun 1991 masehi. Di sebuah dusun kecil di tengah – tengah antar Tembelang dan Tambak beras. Tepatnya di petengan tembelang jombang datang seorang Kyai muda yang tampan dan gemilau pikirannya, beliau bernama kyai Imron Djamil. Kedatangannya di desa itu semula ingin mencari rumah kontrakan sebagai tempat tinggal beliau sekaligus istri tercintanya (ibu nyai Hj Dra Titi Maryam ). Mengingat beliau baru saja usai merantau dan menuntut ilmu di KH Moh Jamaludin Ahmad tambak beras sekaligus lulusan pendidikan – pendidikan formal di Tambak beras seperti MIBU, MMABU, STITBU maka beliaupun tidak mau jauh – jauh dari Tambakberas. Pun juga beliau masih melanjutkan pendidikannya di STITBU.
Akhirnya beliau pun tinggal di rumah sebelah timur warung Mak Ti (sekarang). Selama ±2 tahun beliau tingg`l disitu. Setelah itu beliaupun pindah dan ngekost di sebelah mushalah Authon petengan Jombang.
Di tempat itulah beliau mulai menampung anak – anak, dlu’afa’ dan teman – teman sederajatnya yang ingin sekaligus minat belajar pada beliau.
Pada tahun 1994 beliau sudah memiliki ±8 santri yang berasal dari berbagai daerah atau kota seperti Tuban, Lamongan, Blora, Tulung Agung, dan lain – lain. Santri – santri itu pun kebanyakan kuliah sekaligus ngawula (mengabdi) pada kyai Imron. Walaupun saat itu Kyai Imron juga belum memiliki rumah sendiri.
Awal yang cemerlang bagi sesosok kyai mudah yang pada saat itu juga masih mengajar di MAN dan pendidikan formal yang lain. Kyai Imron cenderung memliki pemikiran yang nyeleneh (aneh). Setiap apapun yang beliau hadapi, baik masalah, tantangan atau problem – problem kehidupan beliau lebih menitik beratkan pada solusi yang lebih menyendiri dan berlaku, “Intine seng penting nyampe pada tujuane” begitu kata beliau.
Sebab itulah tak heran jika sosok kyai muda itu di idolakan oleh para muridnya juga para temannya, sehingga tak ayal makin lama santri dan peminat untuk belajar pada beliau.
Karena banyaknya santri yang berminat belajar padanya, beliaupun mempuyai niatan untuk membeli tanah sekaligus mendirikan rumah sendiri pada tahun 1997/1998 beliau mencari tanah kosong yang dijual. Singkat cerita beliau menemukan tanah yang berdiri rumah kosong, dan cenderung mistis.
Konon rumah tu sangat angker dan tak satu pun orang berani membelinya. Akhirnya Kyai Imron datang dan mengajukan diri untuk membeli tanah itu. Dengan biaya yang terjangkau Kyai Imron pun membeli tanah seluas 16x30m2 yang letaknya sebelah timur jalan raya KH Wahab Chasbullah tambak beras Jombang Lebih tepat lagi 50 M sebelah utara lapangan tambak beras.
Disitulah Kyai Imron membangun rumahnya (sampai sekarang masih seperti dulu) dan memboyong semua santrinya ke rumah itu. Semakin lama para peminatnya sekaligus anak mudah yang ingn belajar padanya pun bertambah. Hal itu membuat beliau berfikir dan berniat mendirkan pondok/asrama. Beliaupun akhrnya sowan pada guru mursyidnya (KH Abdul Jalil Mustaqim) guru mursyid thorekot syadziliyah atas izin syeh Abdul Jalil akhirnya Kyai Imron membangun pondok Disisi kanan kiri rumahnya
Sampai tahun 1999 Kyai Imton sudah mempuyai ±20 santri. Ketika itu pondok itupun belum memilki nama tersendiri, hanya dikenal sebagai “pondoknya Kyai Imron”. Pada akhir tahun 1999 atas inisiatif dari KH Abdul Jalil Mustaqim pondok itu diberi nama “Kyai Mojo”.
Di situlah penulis memulai karir dan perjalananya yang sejati. Selain di Pesantren Kyai Mojo penulis juga meneruskan jenjang pendidikan formalnya di MAN Tambakberas selama tiga tahun, awal perjalanan di MAN pun penulis masih mengembangkan sayapnya di bidang prestasi, meskipun pada waktu setelahnya mulai redah dan mulai pudar sesuai dengan perkembangan teknologi sehinga tidak bisa dilacak lagi sampai seberapa besar prestasi penulis.
Tiga tahun terlewatkan di MAN , tapi tidak terlewat dari Pesantren Kyai Mojo, Penulis mulai menapakkan kakinya satu tingkat. Beliau mulai diberi amanat mengajar oleh Syeh Imron Djamil. Walau sebelumnya tersendat perseteruan dan perdebatan antara orang tua, Syeh Afandi dan Yai Imron. Karena pada mulanya Sang Penulis sudah dirintis akan dikirim ke Syiria dan melanjutkan pendidikannya disana, tentunya dengan bea siswa yang sudah disiapkan oleh Syeh Afandi. Namun semua itu gagal karena satu prinsip “ Orang Tua dan Kyai itu lebih tau jalur seorang anak didik “. Akhirnya Si penulis dengan Sam’an wa Tho’atan tetap menitik pada pesantren Kyai Mojo. Tidak hanya sampai situ, rencana awal yang seharusnya penulis direncanakan melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi ternyata dibelokkan Oleh Yai Imron ke pendidikan salafiyah.
Sering kali penulis menemukan hikmah-hikmah dari Sang Yai. Pola pemikiran yang aneh membuat Si Penulis berfikir panjang dan memutar balikkan otak. Tidak hanya si Penulis hampir keseluruhan santri yai Imron Juga merasakan hal yang sama. Akhirnya selama tiga tahun Si Penulis pun melanjutkan pendidikannya di MMA BU tambakberas.
Sesuai dengan berjalanya waktu tidak terasa terlewatkan begitu saja, dengan berjuta-juta hikmah di dapatkan oleh Si Penulis.
Jenjang selanjutnya atas saran dari Yai Imron juga Penulis melanjutkan jenjang pendidikanya di tingkat perguruan tinggi yaitu STAI BU Tambakberas Jombang.
Pada periode inilah Penulis meletuskan pemikiran -pemikirannya dengan menulis. Beliau mulai merancang buku-buku. Dengan dimulai dari buku-buku mata pelajaran pesantren yang terkhusus menjadi cerminan di Pesantren Kyai Mojo. Kemudian berkembang dan berkembang ke bidang-bidang yang lain.
Itulah Seuntai kisah perjalanan hidup penulis yang bisa kami uraikan . semoga Beliau selalu dalam keadaan sehat wal ‘afiyat, panjang umur, sehingga masih bisa hadir di tengah-tengah kita, juga semoga dzurriyah-dzurriyahnya diberi kesehatan oleh Allah SWT, panjang umur, rizqi yang halal dan barokah dan kesemuanya di beri khusnul khotimah. Aamiin aamiin ya Robb al ‘alamin.

 Jenjang Pendidikan Formal Penulis :
a. TK Ds Mlangi
b. SDN Mlangi Widang I ( 29 Juni 2001 )
c. Mts Darul Ulum II Widang ( 28 Juni 2004 )
d. MAN Tambakberas Jombang ( 16 Juni 2007 )
e. MMA Tambakberas Jombang ( 26 April 2010 )
f. STAI Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 2010 s/d sekarang )

 Jenjang Pendidikan Non Formal
a. Madrasah TPA ( 1998 s/d 2004 )
b. Ponpes Kyai Mojo Tambakberas ( 2004 s/d sekarang )






Syair
Robi’ah al Adawiyah ke-1
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mua
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

Syair
Robi’ah al Adawiyah ke-2 dan ke -3
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku

Syair
Al-Farabi
CINTA YANG KHUSUS

Ketika bulan penuh muncul pada malam hari, menampakkan wajahnya di tengah rambut.
Dari penderitaan muncul gambaran dirinya; tangis air mata di pipi; seperti bunga bakung hitam menumpahkan air mata di atas mawar
Kecantikan hanyalah kesunyian: sifatnya lah yang berlimpah.
Bahkan memikirkan bahaya kehalusannya (kendati terlalu kasar merasakan dirinya). Jika demikian, Bagaimana bisa ia terlihat dengan benar oleh alat tubuh yang janggal seperti mata?
Keajaibannya tak tertangkap nalar. Ia melampaui aneka penglihatan.
Ketika penjelasan mencoba menjabarkan dirinya, ia menguasainya.
Kapan pun berupaya, penjelasan menjadi terusir Karena hal itu seperti mencoba untuk membatasi.
Jika seseorang mencari cita-citanya yang lebih rendah (untuk merasakan cinta seperti pada umumnya), selalu ada orang lain yang tidak akan melakukannya.



Syair Robi’ah al Adawiyah
Tuhanku
Bintang-bintang bersinar bergemerlapan
Manusia sudah tidur nenyak
Dan raja-raja telah menutup pintunya
Tiap orang bercinta
Sedanag ashik masyuk dengan kesayangannya
Dan di sinilah aku bersendirian bersama Engkau.
Ya Rabbi
Bila aku menyembahMu kerana takutkan neraka
Bakarlah diriku di dalamnya
Bila aku menyembahmu kerana harapkan syurga
Jauhkanlah aku dari sana
Namun jika aku menyembahMu hanya demi Engkau
Maka janganlah Kau tutup Keindahan AbadiMu.
Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu
Kekasihku
tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun,
Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun,
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun,
Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun



Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki


Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu

Oleh : Robi’ah Al-Adawiyah
Syair
Sang Sufi Imam Al-Qusyairi
Wahai Dzat Yang membuat syukurku menjadi pendek dari kekokohan-Nya,
Setiap bibir kelu bila menjunjung keluhuran-Nya Sedang kemurahan-Nya, Tunggal tiada serupa Melampaui waktu, yang berlalu maupun yang akan tiba
Tiada abad yang meninggalkan-Nya
Tiada paksa yang menyentuh Nya
Tiada singkap yang menampakkan Nya
Tiada tirai yang menyembunyikan-Nya
Tiada jumlah yang mengumpulkan-Nya
Tiada kontra yang menghalangi Nya
Tiada batas yang memotong Nya
Tiada tetes yang melimpahi Nya
Tiada jagad yang membatasi Nya
Tiada mata yang memandang Nya
Dan tiada dalam angan yang dilihat
untuk menyamai Nya
Keagungan Nya Azali
Tiada sirna Nya
Kerajaan Nya abadi
Tak satu pun dibutuhkan Nya.
Syair
Sang Sufi Imam Al-Qusyairi

Jauhkan padaku hitam legam wahai sahabatku
Bacakan surat surat doa padaku
Benar telah kami jawab bagi perintang akal penuh kepatuhan
Dan kami tinggalkan ucapan Salma dan Maya
Dan kami membuka lebar bagi pematuh syariat
Kami anjurkan pematuh hawa nafsu agar melipat dirinya.


…….…. *********……….

Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah
Pada keluarga kecil
ada yang terkecil
Raihlah orang yang di sebelah kanannya
bakal kau pegang tangan kanan
Engkau lihat yang kiri di sebelahnya
Engkau raih tangan kirinya.



Syair Jalaluddin Ar-Rumi
Tentang Nafsu
Nafsumu itu ibu segala berhala
Berhala kebedaan ular sawa
Berhala keruhanian naga
Itu ibarat perumpamaannya
Mudah sekali memecah berhala
Kalau diketuk hancurlah ia
Walau batu walaupun bata
Walau ular walaupun naga
Tapi bukan mudah mengalahkan nafsu
Jika hendak tahu bentuk nafsu
Bacalah neraka dengan tujuh pintu
Dari nafsu keluar ma’siat setiap waktu.
mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.
Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.

Kearifan Cinta

CINTA yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.
Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang
….…..**********……...
Cinta
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya
Saatnya Untuk Pulang

Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.
Sudah kita lihat cukup destinasi indah
dengan isyarat dalam ucap mereka
Inilah Rumah Tuhan. Melihat
butir padi seperti perangai semut,
tanpa ingin memanennya. Biar tinggalkan saja
sapi menggembala sendiri dan kita pergi
ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju
ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.

SYA'IR FARIRUDDIN ATTAR
Kesabaran
Rendah hatilah dan tirulah sifat diamnya emas
Dengan sabar melangkahlah di jalan itu
Nanti dating padamu buah kesabaran,
Kunci emas yang akan membuka gerbang
Pikirkan Tuhan dengan sabar
Maka kau pun akan menemukanNya di hakikatmu.

Cinta
Kalau matamu terbuka untuk melihat cinta,
kau jadi ceria dan menarik perhatian.
CintaNya memberiku iman dan keraguan
CintaNya adalah nyala api dihatiku
kalau tak seorang bersamaku dalam duka
cukuplah bagiku mengadu kepada Cinta
Cinta memandikanku di dalam air mata,
Dari tabir itu saya diusir oleh rambut ikalnya.
PUISI PARA SUFI BESAR
Biarkan Tuhan bicara , Dengarkan Tuhan bicara
Awan membentuk barisan
Angin memenuhi ruangan
Hujan memerintah lautan
Biarkan Tuhan bicaraDengarkan Tuhan bicara
Gunung bergerak perlahan
Hutan meranggas kerontang
Sungai memapat di hulu dan muara
Biarkan Tuhan bicaraDengarkan Tuhan bicara

(Arifin C. Noer)


Buangkan tirai berlapis-lapis
Hampir-hampir pergi kaujalis
Pakaian mahbub Yogya kaulabis
Supaya dapat mainmu manis

Istananya di puncak gunung
Jalannya banyak berlurung-lurung
Pada rahmatnya kau minta tulung
Supaya dapat pergi ke dalam tudung

(Syeikh Barus)



Kujumpa keagunganMu di lembah-lembah
Kusua rahasia mimpiMu di ladang-ladang Kutemukan kehendakMu dalam batu-batuan
Dan diam kekalMu yang dalam dan rahasiaMu di gua-gua

Kaulah keabadian dan bibirnya
Senar gitar abad-abad dan jari-jemarinya
Gagasan tentang hidup dan pelambang-pelambangnya

(Kahlil Gibran)


‘Ilmul Yaqin nama ilmunya
‘Ainul Yaqin hasil tahunya
Haqqul Yaqin akan katanya
Muhammad Nabi asal gurunya
Syariat akan ripainya
Thariqat akan bidainya
Haqiqat akan tirainya
Ma’rifat yang wasil akan isainya


(Hamzah Fansuri)




Kali ini seluruh diriku telah diselubungi cinta
Kali ini seluruh diriku bebas dari kepentingan dunia
Setiap berhala dari empat anasir tubuh telah kululuhkan
Sekali lagi aku menjadi Muslim, sabuk kekafiran kulepaskan
Sesaat aku berputar mengedari sembilan angkasa raya
Kukitari planet dan bintang-bintang mengikuti sumbunya
Sesaat aku ghaib di suatu tempat rahasia aku berada bersama-Nya
Aku dekat ke kampung halamannya, kusaksikan segala yang harus disaksikan

(Jalaluddin Rumi)
Kini kami bertikai pangkai
Di antara dua, mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
Lengah langsung melewat abad

Aduh kekasihku
padaku semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
Merasa dikau dekat rapat
Serupa Musa di puncak Tursina


(Amir Hamzah)

Apakah arti tarian jika bukan permohonan
Jika bukan jembatan, laluan, alamat
Bagi yang rendah menuju tempat yang tinggi.?
Agar yang satu selaras dengan yang lain

Tubuh penari adalah sebuah kuil
Untuk menyimpan harta tersembunyi, pembangunannya Kau
Pintu-pintu masuknya dibukakan
Yang datang dan yang pergi bergerak karena kehendak-Mu
(Martin Lings)


Mujahadah dan Makrifat

Makrifat itu pengenalan jiwa
Mengenal jiwa dan mengenal Tuhannya
Mengenal dengan sejelas jelasnya
Tidak kabur tapi jelas nyata
Mujahadah itu perjuangan dan usaha
Makrifat itu menuai hasilnya
Mujahadah itu dalam perjalanan
Makrifat itu matlamat tujuan
Makrifat itu pembuka rahsia
Makrifat itu sendiri rasa
Makrifat itu sagunya
Mujahadah itu memecah ruyungnya.

Jalaludin Ar Rumi


Menyatu Dalam Cinta

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”


RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada ‘dosa’ atau ‘kebaikan’?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan – Rasul!
Simbolisme Sufi

Pelukan dan ciuman adalah pesona-pesona cinta.
Tidur adalah kontemplasi,
Parfum adalah harapan untuk berkah Ilahi.
Penyembah berhala berarti manusia dengan keyakinan murni, bukan kaum kafir.
Anggur, yang dilarang oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya, digunakan sebagai sebuah symbol-kata oleh kaum Sufi untuk menunjuk pengetahuan spiritual, dan
Penjual anggur berarti seorang pemandu spiritual.
Sebuah Kedai minum adalah tempat dimana anggur cinta Ilahi memabukkan para musafir.
Kemabukan berarti ekstase religius, Keriangan adalah kesenangan dalam cinta Sang Khaliq.
Keindahan berarti keagungan Sang Kekasih.
Rambut ikal dan Rambut berarti kemurnian yang menyelubungi wajah Kesatuan dari para pecinta-Nya.
Pipi berarti esensi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Bulu halus adalah dunia ruh-ruh suci yang paling dekat dengan Ketuhanan. Tahi lalat pada pipi adalah titik Kesatuan yang tak bisa dibagi.
Obor adalah cahaya yang terpancar dalam hati oleh Sang Kekasih.
Lihat hanya Satu,
katakan hanya Satu,
kenal hanya Satu.

Wahai jiwa-jiwa yang merasa lebih
Lebih punya, lebih pintar, lebih kuat
Hingga engkau menganggap mereka bodoh, miskin, lemah
Dan kau injakkan kakimu di atas pundak mereka
Wahai jiwa-jiwa yang lupa
Semoga Allah memberi kesembuhan dari penyakit-penyakitmu
Bagaimana engkau akan mengenal Tuhanmu
Bila engkau tak mengenal dirimu sendiri

(Jabrik)



Tujuan Penciptaan
Alasan dunia ini diciptakan adalah untuk mengungkapkan
apa yang harus diketahui.

Dia menciptakan apa yang diketahuiNya
tanpa kelahiran dan rasa sakit,
engkau tidak dapat bermalas-malas barang sekejap
sampai hakikat dirimu diketemukan pada saatnya.
Perjuangan dan kerja yang kau lakukan dengan tekun
adalah jalan menuju pengungkapan hakikat diri
Tubuhmu adalah poros yang terus berputar
Karena otakmu terus menarik benang.
Kedua dunia berada dalam peristiwa kelahiran dan rasa sakitnya
Sebabnya adalah ibu, akibatnya adalah anak.
Angkatan demi angkatan manuisa mengulanginya,
Hanya mata yang dicerahkan
melihat rantai peristiwa ini. (Rumi)

Tenggelamkan dirimu
dalam kelemahan hakiki
Yakinkan hatimu bahwa Allah Maha Pengasih
Semua perlakuan Allah padamu hanya untuk mengasihimu
Bukan rahmat Allah yang hilang
Tapi hatimu yang belum mampu merasakan


(Imron Djamil Mashuri)






Di dalam kehidupan yang singkat ini
Semua perbuatan yang ku lakukan menjadi sia-sia
Ketika ku berpaling dari-Mu
Meskipun aku sering melupakan-Mu
Janganlah sekali-kali Engkau meninggalkanku
Meskipun aku sering menjauh dari-Mu
Janganlah berhenti untuk mendekat padaku
Meskipun aku sering mencaci-Mu
Janganlah membuat-Mu membenciku
Karena aku adalah hamba-Mu


( Ahmad )


Ketika kau merasa
Tuhanmu adalah yang memaksamu, yang menyakitimu dan yang mengancammu
Maka Dialah musuhmu
Ketika kau merasa
Tuhanmu adalah yang menjagamu,yang menolongmu, dan yang memberi kebutuhanmu
Maka Dialah temanmu
ketika kau merasa
Tuhanmu adalah yang mencintaimu, yang menyayangimu dan yang memanjakanmu
Maka Dialah kekasihmu

(Mbah Mat)



Yang paling dekat adalah Tuhan
Namun sulit kita pahami
Bilamana bahaya muncul
Akan bertambah yang menyelamatkannya

(Hoelderlin)

Akal dipakai untuk memahami
Keadaan manusia selaku hamba-Nya
Cinta untuk mencapai kesaksian
Bahwa Tuhan itu satu

Oleh : (Syah Nikmatullah Wali)

Sang Sufi Imam Al-Qusyairi
Bila musim memberimu dengan kesedihan
Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya
Sejenak akan tampak maunya
Dan selesai setiap urusannya
Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu
Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa
Kami menghuni masa
Sedang mata terasa sejuk
Suatu hari jadilah ciumanmu
pelupuknya.
************
Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami
Engkau saksikan ketika pamit berpisah
Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata
Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata.
**************
Bila keadaan keadaan jiwa menolongmu
Intailah akan sirnanya
Itu pun tak lebih dari missal pengalaman yang diberikan
Bila ucapan ucapan busuk menuju padamu
Maka, busungkan luasnya dada yang tercambuk
Dan, bersabarlah.

‘Mati’ sebelum Engkau Mati
( Muutu Qabla anta Muutu )
Jalaludin Ar Rumi

Kau sudah banyak menderita
Tetapi kau masih terbalut tirai’
Karena kematian adalah pokok segala
Dan kau belum memenuhinya
Deritamu tak kan habis sebelum kau ‘Mati’
Kau tak kan meraih atap tanpa menyelesaikan anak tangga
Ketika dua dari seratus anak tangga hilang
Kau terlarang menginjak atap
Bila tali kehilangan satu elo dari seratus
Kau tak kan mampu memasukkan air sumur ke dalam timba
Hai Amir, kau tak kan dapat menghancurkan perahu
Sebelum kau letakan “mann” terakhir…
Perahu yang sudah hancur berpuing-puing
Akan menjadi matahari di Lazuardi
Karena kau belum ‘Mati’,
Maka deritamu berkepanjangan
Hai Lilin dari Tiraz, padamkan dirimu di waktu fajar
Ketahuilah mentari dunia akan tersembunyi
Sebelum gemintang bersembunyi
Arahkan tombakmu pada dirimu
Lalu ‘Hancurkan’lah dirimu
Karena mata jasadmu seperti kapas di telingamu…
Wahai mereka yang memiliki ketulusan…
Jika ingin terbuka ‘tirai’
Pilihlah ‘Kematian’ dan sobekkan ‘tirai’
Bukanlah karena ‘Kematian’ itu kau akan masuk ke kuburan
Akan tetapi karena ‘Kematian’ adalah Perubahan
Untuk masuk ke dalam Cahaya…
Ketika manusia menjadi dewasa, matilah masa kecilnya
Ketika menjadi Rumi, lepaslah celupan Habsyi-nya
Ketika tanah menjadi emas, tak tersisa lagi tembikar
Ketika derita menjadi bahagia, tak tersisa lagi duri nestapa…





Apa Yang mesti Ku lakukan

Apa yang mesti kulakukan, O Muslim?
Aku tak mengenal diriku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia ini ataupun dari akhirat, bukan*dari Syurga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu” dan “Ya man Hu”
Aku mabuk oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabuk gila-gilaan
Kalau sekali saja aku seminit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabuk dan gila-gilaan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar