RSS

BUKU SYAIR CINTA

Mbah Duan

Syair-syair
 Syair Sufi
 Syair Cinta






Syair-syair
 Syair Sufi
 Syair Cinta
Penulis :
• Mbah Duan ( Moh Ali Ridwan )
• Mbah Mad
Penyusun :
Moh Ali Ridwan
Penerbit :
Pustaka Mojo



Sekapur Sirih
Alhamdulillahi robbil ‘alamin segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang telah memberikan rohmat,hidayah dan inayahNya pada kita semua sehingga sampai saat ini kita semua masih dalam keadaan sehat , kuat dan yang terpenting dalam keadaan iman dan islam.
Sholawat dan salam semoga tetap terhaturkan pada junjungan kita nabi agung, penebar rohmat dan penyebar benih kesucian cinta Yaitu Nabi Muhammad SAW. Pun kepada keluarga, para sahabat, tabi,in dan semua kaum muslimin muslimat.
Penulis adalah Mahasiswa dan santri tambakberas Bisa dikatakan juga bahwa penulis adalah seoarang pujangga cinta. dalam sejarah dan biografinya bisa kita ketahui bahwa penulis adalah sesosok tokoh dan sang pengelana yang mencari cinta.
Dalam buku ini penulis menukil sebagian besar isi hati dan perjalanan pengelanaannya dalam mencari cinta. Ia ungkapkan dan ia tulis dalam bentuk syair – dan puisi. Juga penulis menukil dari beberapa syair-syair kondang baik dari para sufisme atau pun dari pujanga cinta seangkatannya.
Yang jelas dengan buku ini secara tidak langsung penulis mengajak para penbaca dan para pengelana dalam dunia yang fana ini untuk selalu berusaha :
1. Koreksi diri dalam segala hal
2. Berkaca pada masa lalu
3. Menatap dalam masa depan
4. Bercita-cita tinggi
Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan buku cetakan ini. Baik dari segi bahasa, keindahan atau uslub-uslub yang ada. Maka dari itu penulis sangat berharap saran,masukan serta bimbingan dari para pembaca untuk menyumbangkan idenya, partisipasinya dan pikiran-pikiran guna untuk lebih memperbaiki buku ini.
Akhirnya kami hanya mohon pada Allah SWT semoga buku ini memberi manfa’at pada kita semua dan khususnya pada semua santri terkhusus santri pondok pesantren kyai mojo tambakberas Jombang. Sehingga dapat mengantar dan mengkder anak-anak didik yang bermanfa’at,berguna bagi masyarakat bangsa dan Negara. Aamiin ya Robbal “alamin.
Jombang,25 Februari 2011
Penulis :

Moh Ali Ridwan


Biografi Penulis

A. Latar Belakang Keluarga

Di daerah pedalaman kota Tuban, yang jauh dari keramaian , yang masih murni daerah pedesaan, sebuah daerah yang dikelilingi empat muara pencarian sandang pangan, lautan, hutan, pegunungan dan lahan sawah dan perikanan ( tambak ) tepatnya di pelosok desa Mlangi kec Widang Kab Tuban. Lahirlah seorang anak kecil , mungil dan calon penerus keluarga, Ustadz Moh Ali Ridwan bin Supardi bin Sagi bin Sarimo bin Kasira pada Kamis legi malam 2 Muharrom 1408 H / 27 September 1987 pukul 21.00 WIB.
Dari jalur lain penulis adalah keturunan kyai dan Mudin kondang di desa itu, yang bersilsilah Moh Ali Ridwan bin Supardi bin Kona binti Mudin Sulaiman.
Ayahanda Beliau adalah seorang santri salaf yang mata pencahariaan kesehariannya adalah petani. Sifat Zuhud dan sifat jujurnya sang Ayah lah yang tidak bisa kita pungkiri kehebatannya sehingga putra pertamanya seperti yang kita ketahui ini. Dalam menjalani pekerjaannya sang Ayah sangat konsekuen, saat jadi Kuli atau buruh Ia selalu menjalani sesuai dengan syari’at islam yang umumnya di desa tersebut sudah tidak lagi dihiraukan. Pada umumnya buruh itu berangkat ke sawah pukul 06.00 dan pulang pukul 17.00 dengan istirahat sholat dhuhur secukupnya, akan tetapi kebudayaan tersebut seakan puna di daerah-daerah itu. Para buruh cenderung korupsi waktu baik waktu brangkat istirahat dan pulangnya.
Namun sang Ayah lain daripada buruh-buruh yang lain, sehinga banyak para juragan yang suka dan ingin mempekerjakannya. Dan dari titik ketawadlu’an pada sang guru, pada sang Kyai , ayahanda cenderung secara totalitas mencurahkan ketawadlu’anya, sehingga walau bekerja sbagai buruh di sawah Pak Yai sang Ayah tidak lah pernah menuntut upah.
Dari Ayah tersebutlah tidak heran jika di lahirkan sesosok seperti al-Ustadz Ali atau biasa dipanggil ustadz Duan, bahkan populernya dengan panggilan Mbah Duan.

B. Sejarah Pendidikan
Ditengok dari kacamata pendidikan dan pembelajaran, penulis tidak jauh beda dengan anak-anak sezamannya. Akan tetapi orang tua memberikan pendidikan yang lebih pada penulis . sebelum menginjakkan kaki di bangku TK ( taman kanak-kanak ) penulis sudah dibekali berbagai ilmu oleh orang tuanya. Sang ayah adalah orang tua yang keras dalam hal pendidikan. Semua jadwal anak pertamanya ini di tata sedemikian rupa mulai bangun tidur, membantu orang tua di sawah, belajar, mengaji dan ngumawulo pada Sang Guru Agung KH. Abdul Mukti kyai desa Mlangi.
Begitu disiplinnya masa hidup sang penulis maka tidak heran jika penulis pun punya watak yang keras terutama dalam ngaji, dan belajar.
Penulis adalah siswa yang tertinggal di kala itu. Karena pertimbangan orang tua terhadap kemampuan si Penulis sehingga dalam usia ke-6 tahunnya beliau belum masuk dalam pendidikan TK , baru dalam usia ke – 7 beliau masuk sehingga secara hitungan rata-rata usia si penulis 1 tahun tertinggal dengan anak-anak yang lain.
Mulai saat itulah tampak nyata bakat dan kehebatan sang penulis, mulai pendidikan TK sampai Pendidikan Dasar ( SD ) penulis selalu meraih label siswa terbaik. Sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah Darul Ulum II selama tiga tuhun penulis juga masih menduduki urutan pertama, sampai pada ujian akhir tingkat Mts.
Dari segi pendidikan agama, sang ayah justru lebih menekankannya, terutama dalam hal ngaji-mengaji. Tiap hari ada jadwal khusus bagi sang anak untuk*jadi muadzin di musholla pak yai. Sekitar tahun 1997/1998 penulis mulai memasuki jenjang pendidikan TPA ( taman pendidikan Al-Qur’an ) kemudian Diniyyah dan sorokan pada pak Yai dan para asatidz. Pun tidak kalah hebatnya , bakat dan kecerdasan sang penulis mulai bermunculan satu persatu, dalam tiap moment penting dalam perjalanannya selalu beliau gapai hasil yang baik dan sempurna. Dalam tiap lomba pidato beliau selalu meraih juara satu dan seterusnya.
Bagi sang Ayah , melihat sekelumit perjalanan si anak ( penulis ) yang naik berkembang dengan sempurna beliau hanya tersenyum bahagia , akan tetapi tidak sampai situ saja. Sang Ayah menaruh cita-cita tinggi dalam diri si anak. Beliau selalu berpesan pada anaknya, “ jadilah orang yang lebih hebat dari bapak “ dan “ janganlah kamu berfikir bekerja atau membiayai orang tua tanjakkan kakimu dan raih lah cita- citamu “. Begitu singkat dan jelas pesan sang ayah kepada penulis.
Singkatnya, sang ayah memasrahkan langkah si penulis pada Pak Yai. Disinilah awal mulai perjalanan sang penulis di dunia luar. Seperti maqolah imam Syafi’I “ belum sempurna seorang penuntut ilmu sebelum ia memberanikan diri berpisah dari keluarga dan menuntut ilmu di daerah luar”.
Perjalanan penulis terukirdan mulai menapak di dunia pesantren. Melewati sang guru Syeh Afandi penulis dikirim ke sebuah daerah yang unik, di sebuah pesantren Kyai Sufi di daerah Petengan ,tepatnya utara Tambakberas yang berpusat Pondok Pesantren terbesar di Jombang yaitu Bahrul Ulum.
Sekilas jika ditengok dari Sejarah Sekitar tahun 1991 masehi. Di sebuah dusun kecil di tengah – tengah antar Tembelang dan Tambak beras. Tepatnya di petengan tembelang jombang datang seorang Kyai muda yang tampan dan gemilau pikirannya, beliau bernama kyai Imron Djamil. Kedatangannya di desa itu semula ingin mencari rumah kontrakan sebagai tempat tinggal beliau sekaligus istri tercintanya (ibu nyai Hj Dra Titi Maryam ). Mengingat beliau baru saja usai merantau dan menuntut ilmu di KH Moh Jamaludin Ahmad tambak beras sekaligus lulusan pendidikan – pendidikan formal di Tambak beras seperti MIBU, MMABU, STITBU maka beliaupun tidak mau jauh – jauh dari Tambakberas. Pun juga beliau masih melanjutkan pendidikannya di STITBU.
Akhirnya beliau pun tinggal di rumah sebelah timur warung Mak Ti (sekarang). Selama ±2 tahun beliau tinggal disitu. Setelah itu beliaupun pindah dan ngekost di sebelah mushalah Authon petengan Jombang.
Di tempat itulah beliau mulai menampung anak – anak, dlu’afa’ dan teman – teman sederajatnya yang ingin sekaligus minat belajar pada beliau.
Pada tahun 1994 beliau sudah memiliki ±8 santri yang berasal dari berbagai daerah atau kota seperti Tuban, Lamongan, Blora, Tulung Agung, dan lain – lain. Santri – santri itu pun kebanyakan kuliah sekaligus ngawula (mengabdi) pada kyai Imron. Walaupun saat itu Kyai Imron juga belum memiliki rumah sendiri.
Awal yang cemerlang bagi sesosok kyai mudah yang pada saat itu juga masih mengajar di MAN dan pendidikan formal yang lain. Kyai Imron cenderung memliki pemikiran yang nyeleneh (aneh). Setiap apapun yang beliau hadapi, baik masalah, tantangan atau problem – problem kehidupan beliau lebih menitik beratkan pada solusi yang lebih menyendiri dan berlaku, “Intine seng penting nyampe pada tujuane” begitu kata beliau.
Sebab itulah tak heran jika sosok kyai muda itu di idolakan oleh para muridnya juga para temannya, sehingga tak ayal makin lama santri dan peminat untuk belajar pada beliau.
Karena banyaknya santri yang berminat belajar padanya, beliaupun mempuyai niatan untuk membeli tanah sekaligus mendirikan rumah sendiri pada tahun 1997/1998 beliau mencari tanah kosong yang dijual. Singkat cerita beliau menemukan tanah yang berdiri rumah kosong, dan cenderung mistis.
Konon rumah tu sangat angker dan tak satu pun orang berani membelinya. Akhirnya Kyai Imron datang dan mengajukan diri untuk membeli tanah itu. Dengan biaya yang terjangkau Kyai Imron pun membeli tanah seluas 16x30m2 yang letaknya sebelah timur jalan raya KH Wahab Chasbullah tambak beras Jombang Lebih tepat lagi 50 M sebelah utara lapangan tambak beras.
Disitulah Kyai Imron membangun rumahnya (sampai sekarang masih seperti dulu) dan memboyong semua santrinya ke rumah itu. Semakin lama para peminatnya sekaligus anak mudah yang ingn belajar padanya pun bertambah. Hal itu membuat beliau berfikir dan berniat mendirkan pondok/asrama. Beliaupun akhrnya sowan pada guru mursyidnya (KH Abdul Jalil Mustaqim) guru mursyid thorekot syadziliyah atas izin syeh Abdul Jalil akhirnya Kyai Imron membangun pondok Disisi kanan kiri rumahnya
Sampai tahun 1999 Kyai Imton sudah mempuyai ±20 santri. Ketika itu pondok itupun belum memilki nama tersendiri, hanya dikenal sebagai “pondoknya Kyai Imron”. Pada akhir tahun 1999 atas inisiatif dari KH Abdul Jalil Mustaqim pondok itu diberi nama “Kyai Mojo”.
Di situlah penulis memulai karir dan perjalananya yang sejati. Selain di Pesantren Kyai Mojo penulis juga meneruskan jenjang pendidikan formalnya di MAN Tambakberas selama tiga tahun, awal perjalanan di MAN pun penulis masih mengembangkan sayapnya di bidang prestasi, meskipun pada waktu setelahnya mulai redah dan mulai pudar sesuai dengan perkembangan teknologi sehinga tidak bisa dilacak lagi sampai seberapa besar prestasi penulis.
Tiga tahun terlewatkan di MAN , tapi tidak terlewat dari Pesantren Kyai Mojo, Penulis mulai menapakkan kakinya satu tingkat. Beliau mulai diberi amanat mengajar oleh Syeh Imron Djamil. Walau sebelumnya tersendat perseteruan dan perdebatan antara orang tua, Syeh Afandi dan Yai Imron. Karena pada mulanya Sang Penulis sudah dirintis akan dikirim ke Syiria dan melanjutkan pendidikannya disana, tentunya dengan bea siswa yang sudah disiapkan oleh Syeh Afandi. Namun semua itu gagal karena satu prinsip “ Orang Tua dan Kyai itu lebih tau jalur seorang anak didik “. Akhirnya Si penulis dengan Sam’an wa Tho’atan tetap menitik pada pesantren Kyai Mojo. Tidak hanya sampai situ, rencana awal yang seharusnya penulis direncanakan melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi ternyata dibelokkan Oleh Yai Imron ke pendidikan salafiyah.
Sering kali penulis menemukan hikmah-hikmah dari Sang Yai. Pola pemikiran yang aneh membuat Si Penulis berfikir panjang dan memutar balikkan otak. Tidak hanya si Penulis hampir keseluruhan santri yai Imron Juga merasakan hal yang sama. Akhirnya selama tiga tahun Si Penulis pun melanjutkan pendidikannya di MMA BU tambakberas.
Sesuai dengan berjalanya waktu tidak terasa terlewatkan begitu saja, dengan berjuta-juta hikmah di dapatkan oleh Si Penulis.
Jenjang selanjutnya atas saran dari Yai Imron juga Penulis melanjutkan jenjang pendidikanya di tingkat perguruan tinggi yaitu STAI BU Tambakberas Jombang.
Pada periode inilah Penulis meletuskan pemikiran -pemikirannya dengan menulis. Beliau mulai merancang buku-buku. Dengan dimulai dari buku-buku mata pelajaran pesantren yang terkhusus menjadi cerminan di Pesantren Kyai Mojo. Kemudian berkembang dan berkembang ke bidang-bidang yang lain.
Itulah Seuntai kisah perjalanan hidup penulis yang bisa kami uraikan . semoga Beliau selalu dalam keadaan sehat wal ‘afiyat, panjang umur, sehingga masih bisa hadir di tengah-tengah kita, juga semoga dzurriyah-dzurriyahnya diberi kesehatan oleh Allah SWT, panjang umur, rizqi yang halal dan barokah dan kesemuanya di beri khusnul khotimah. Aamiin aamiin ya Robb al ‘alamin.

 Jenjang Pendidikan Formal Penulis :
a. TK Ds Mlangi
b. SDN Mlangi Widang I ( 29 Juni 2001 )
c. Mts Darul Ulum II Widang ( 28 Juni 2004 )
d. MAN Tambakberas Jombang ( 16 Juni 2007 )
e. MMA Tambakberas Jombang ( 26 April 2010 )
f. STAI Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 2010 s/d sekarang )

 Jenjang Pendidikan Non Formal
a. Madrasah TPA ( 1998 s/d 2004 )
b. Ponpes Kyai Mojo Tambakberas ( 2004 s/d sekarang )






M u n a j a t
Tuhan ……….
Aku ingin lebih menolong daripada di tolong
Aku ingin menghibur daripada dihibur
Aku ingin memaafkan daripada dimaafkan
Tuhan………
Aku ingin memberi daripada diberi
Aku ingin mencintai daripada dicintai
Aku ingin menyayangi daripada disayangi
Karena dengan menolong aku akan Engkau tolong
Karena dengan menghibur aku akan Engkau hibur
Karena memaafkan aku akan Engkau maafkan
Karena dengan memberi aku akan Engkau beri
Karena dengan mencintai aku akan Engkau cintai

( Mbah Duan )
Kesunyian

Lembut Nyanyian malam
Denting suara alam
Memecah hening kesunyian
Hati pun mulai tenggelam
Dalam angan
NamaMu terkulai dalam kesunyian
Mencengkram dalam kelembutan
Menyanyi dalam kegembiraan
Syahdu dalam kebahagiaan
Engkau lah malamku yang kudambahkan

( Mbah Duan )
( B e c a r e f u l l )

Hati-hati………….
Hati-hati dengan wanita
Tambah cantik tambah bahaya
Hati-hati dengan pria
Tambah simpatik akan tambah makin gila
Orang-orang modern berjalan tanpa busana
Orang-orang modern hobinya berdusta
Orang-orang modern sudah tidak punya nurani dan rasa
Orang-orang modern tiap hari pamer senjata
Orang-orang moden bukanla manusia

( Moh Ali Ridwan )

Cinta & Pengabdian
Saat cinta datang . . . . . . . .
Yaqinlah sang perkasa pun datang
Ketika cinta datang . . . . . . . . . .
Walau kau bangun tembok raksasa
Yaqinlah kau tak kan kuasa menghadangnya
Saat cinta datang . . . . . . . .
Bukalah pintu gerbang hati
Sambutlah dengan suka
Karena cinta akan mengajarimu sebuah nilai
Nilai pengabdian dan nilai kesetiaan
Karena cinta akan mengajarimu sebuah kunci
Kunci kesabaran dan kerinduan
Karena cinta akan mengajarimu bercerita
Bercerita sebuah masa indah
Yang hadir dalam sandiwara manusia…….

Oleh : Mbah Duan


J e r i t a n
Hidup bagaikan penjara
Aku bagaikan burung tanpa sayap
Aku tidak punya daya untuk melangkah
Aku hanya bisa sedih dan merana
Aku ratapi sesuatu yang harusnya tidak aku ratapi
Aku tangisi sesuatu yang harusnya tidak aku tangisi
Aku ingi lari
Aku ingin pergi
Tolonglah aku !!!!
Lepaskan aku dari ikatan ini
Biarkan aku terbang
Biarkan aku terbang mencari kehidupan
Biarkan aku bahagia
Ambillah seluruh hidupku
Ambillah harta bendaku
Tapi jangan kau ambil kebahagiaanku….

( Mbah Duan )

Janji Cinta

Seribu salam terjawab salam
Aku pun percaya menerima
Walau penuh tanda Tanya
Kini di hari Ulang tahunmu
Ku ingin berubah dalam melihatmu
Menjadi sesosok yang lebih baik
Menjadi sesosok yang kau banggakan
Dan sebagai rasa kasihku
Kuikrarkan janji
tuk hidup bersamamamu
Aku mencintaimu
Bukan karena kamu mencintaiku

( Moh Ali Ridwan )


Dimana Aku hidup

Aku hancur dalam dalam kehinaan
Aku hidup dalam dalam penyesalan
Aku berpaling dalam kebenaran
Aku tersesat dalam kesunyian
Aku hina dalam kegelapan
Aku hidup dalam jurang yang dalam
Aku tenggelam dalam lautan kebinasaan
Aku hidup dalam hutan yang jauh dari cahaya
Aku sudah binasa
Aku sudah tidak bisa apa-apa
Aku sudah hina
Aku sudah mati
Aku sudah hilang dari hidup ini
Aku ingin hidup yang lebih baik lagi
( Moh Ali Ridwan )
Puisi cinta Kuli bangunan

Palu dan paku tak mungkin bersatu
Yang satu menghantam tanpa ragu
Yang satu terhantam dan kaku
Tapi mereka saling memadu
Kita memang belum pernah ketemu
Tapi bolehkah jika aku
Mendadak ingin memilikimu
Pasir tanpa semen bolong
Cinta tanpa hati bohong
Dunia tanpa kata tak nyata
Tak ada kata berarti tak ada suara
Jadi katakan dong kalau kamu cinta
Cintaku sedalam pondasi petromas
Penjagaanku sebahaya besi panas
Kerinduanku sedekat diesel dan pelumas
Tanpamu seakan rumah tanpa alas
Karena kesetianku tanpa batas

DEMI CINTA
Cinta adalah keindahan

“ perawan…pewarna…penawar ”
Perawan adalah pewarna bagi etalase dunia
Yang untuknya para hidung belang
Sanggup bertruh rupiah …
Perawan adalah pewarna bagi begomoni kekuasaan
Yang untuknya para raja keluar dari peraduan dengan
Menyengkelit pusaka…
Perawan adalah pewarna bagi arogansi sistemik
Yang untuknya para bajingan siap menyebar kebusukan
Untuk perawanlah milyaran kedoik darah
Ditumpukkan…
Namun dipuncak kidung kearifan …
Melangkah seorang perawan yang berbiaskan
Nurani dan harga dirikehadapanku …
Dia persembahkan selarik senyuman nan tulus
Tanpa kata-kata
Dadaku bergetar … tungkai-tungkai lemahku menggetar
Pahit dan rasa sakit itu mendadak lenyap.
Senyuman itu telah mendatangkan kesungguhan.
Perawan yang menghampiri pertapaanku ini …
Bukan sembarang prawan
Perawan ini membawa penawar luka
Di dalam kehadiranya.
Sesaat kabut tipis hilang
Kabut yang menjadi pembatas antara aku dan dia
Pandanganku pun menjadi samar
Perawan itu seolah mengkristal
Ia memancarkan berjuta pelangi yang bersayap
Ia berputar dan berputar
Memutih dan memudar
Perawan itu menjadi penawar sebuah luka
Perawan dan pewarna adalah penawar derita
Perawan dan penawar adalah pewarna iman
Penawar dan pewarna adalah perawan dalam semesta
( Ali Ridwan )
( Kitab Cinta II : Wijayanto )

I can’t losing you

Here I stand …
Staring at the sky tonight
Hoping I can see the moonlight
To forget the time we said good bye
Twilligh on mei
Here I am hurt …
Felling the wind caressing me
Remembering we used to be
We couldn’t brek the barrier
Now …
Your shadows always still linger
Here I am …
Triying to runaway
But I can’t seveeft this feeling
Trying hard to forget you
But it seems so hard
And difficult to do

( Mr. Ridwan Ali )

Farewell

Farewell to you
My girl my darling my sweet heart
Day by day we passed
Doing manything together
Here. . . in our palace
In Kyai Mojo
Feeling happy and sad
Now I standing here
It’s time for us
To say good bye
I know
It’s too hard to do
However, the time is time
Going on
Only prayer we ask
Only prayer we give
Here I am
Just want to say
Good by and good luck
Forget me not

( Mr . Duan )


Good Bye

Good bye Darlyng
Good bye sweet heart
Day by day , month by month
Year by year we passed
Doing manything together
Whenever and wherever we always together
Feeling happy and sad
Laught , cry, smile, bad
We always felling together
Now…
You will go
You will go from my heart
I know…
I will not can forget you
I will always remember you
Your name in my heart
However this time for me
I must forget you
Because you have forgotten me
I am sorry darling
You don’t be loyal to me
You don’t wait me
That’s bad for me
( Mr Duan )
Cinta Sejati

Cinta yang baik
Bukan karena kecantikan dan ketampanan
Bukan pula ditimbulkan karenanya
Cinta yang indah
Adalah karena kelakuan
Karena sikap yang baik dan segan
Cinta yang sejati
Adalah terdiri dari dua orang
Tidak ada dan tidak perna ada orang ketiga
Cinta sejati adalah
Dengan pengorbanan
Kesetiaan
Pengertian dan
Keyakinan

( Ridwan Ali )
Berkaca dari Kegagalan

Kegagalan hari ini
Bukanlah kegagalan selamanya
Bukan pula kegagalan yang harus dipendam
Kegagalan hari ini
Adalah sumber kesuksesaN hari esok
Mengakui kekurangan diri sendiri
Adalah tangga mencapai cita-cita
Mengetahui kekurangan
Adalah sebuah ukuran melangkah
Putus asa adalah sebuah penghalang
Ia adalah sebuah ketakutan yang dalam
Kesuksesan ada dalam kepribadian
Berusaha adalah keberanian yang luar biasa
Tanpa keberanian orang akan rapuh
Tanpa mental orang akan lumpuh

( Moh Ali ridwan )

A l – H a d I t s


“ Berpesan baiklah pada wanita,
Sesngguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.
Dan yang paling bengkok adalah yang paling atas
Oleh karena itu
Apabila kamu paksa untuk meluruskan
Maka ia akan hancur
Dan apabila ia kau biarkan
Maka akan bengkoklah ia selamanya
Maka berpesan baiklah pada wanita
Dengan cara yang lembut

( Hr. Bukhori Muslim )





Cinta kan lebih berharga
Waktu kan slalu ada dalam hidup
Begitu pula denga cinta pasti ada dalam, hati seseorang
Persahabatan memang indah dimata di dunia
Dan bisa mencurahkan isi hati dan berbagi

Tapi apakah cinta tak bisa seperti itu
Cinta kan lebih berharga dari pada itu
Cinta kan lebih indah dari pada itu
Hargailah pengorbana cinta, sayang…

Hargailah pengorbanan cintaku
Hanya untuk cinta bukan tuk apa-apa
Ku korbankan jiwa raga hanya untukmu
Apa sih harapan dari orang plosok desa sepertiku
Semua orang bisa menghinaku
Semua orang bisa mencaci maki aku
Aku sadar itu….
Tapi apakah aku salah bila mencintai…

( Oleh : Mbah Duan )
Cinta adalah anugrah
Cinta adalah anugrah…..
Tanpa cinta seorang takan hidup bahagia
Cinta itu normal tak kurang suatu apapun
Banyak orang salah mengerti cinta
Yang dia tahu hanya love adalah love
Sayang percayalah cintaku ini
Cintaku bukan di atas kertas…
Cintaku adalah getaran di hati
Tanpa aku paksa, tanpa ku minta
Dia sudah ada
Tak perlu kau ganti
Kalau kau tak tulus hati
Ku yakin atas cintaku
Ku yakin ada jawabannya dan
Ku yakin ada balasannya
Sayang belum apa-apa kita tak kan berpisah
Aku gak ngerti cinta apa ini
Tapi aku hanya bisa membisu
Melewati waktu itu
Biarlah…
Biar ku merana
biar ku pendam
( Ridwan Ali )

Aku jatuh cinta

Aku jatuh cinta
Dan sadar kalau aku merasakannya
Tapi aku sendiri dan merngkuh
Menangis pilu dalam kedukaan
Tapi tak tahu siapa yang ku tangsi
Ku berjalan dalam kegelapan malam
Dengan penuh harapan
Tapi nggak ngerti siapa yang aku cari
Ku berkeringat pagi, siang, dan malam hari
Tapi ndak tahu siapa yang ku abdi
Aku tak punya cinta yang sejati
Yang ku punya hanya birahi
Aku gak mau pacaran
Karena pacaran hanya bertujuan
Surat-suratan dan ucapkan salam
Aku lelah ku ingin tidur
Ku ingin lari dari kanyataan yang pedih ini
Aku benci…..aku benci….
Aku benci dengan cinta

( Oleh : Mbah Duan )

Tentag hidupku, cintaku, sayangku, dan kasihku

Ingi selalu ku utarakan segalanya
Tentag hidupku, cintaku, sayangku, dan kasihku
Dari semua kegiatan yang aku tulis
Dari kumpulan kertas dan pena yang
Tak bisa berkata
Tapi menyimpan banyak tangis
Jeritan, kebahagiaan dan harapan
Tentang hidup dan cinta
Kau tak kan mengerti…….
karena ku juga tak mengerti
ini memang bahasaku, bahasa hatiku
bahasa hidupku dan bahasa cintaku
semangatku tuk mengejar….
Kesabaranku tuk bertahan dan
Keberhasilanku menggapai cita-cita
Ada pada kertas dan pena
Yang bisu tapi selalu ingin tahu
( Oleh : Mbah Duan )

Sayang

Sayang cukuplah sudah
Tak sanggup diriku bertahan
Tuk hidup dalam harapan dan kenangan
Tak mampu diriku paksakan
Tuk pergi dan melupakanmu
Aku sadar….
Tak mudah bagi diriku
Tuk melupakan dan menghapus bayanganmu
Tak bisa bagi diriku….
Tuk membencimu….
Tak kuat pula bagiku….
Tuk meninggalkannmu
Lelah diriku mencoba
Melakukan semuanya
Hanya demi pertahankan cinta
Yang cuma tanda Tanya
Ku tau jawabnya
Apakah ini cinta sejati
Ataukah hanya mimpi

( Oleh : Mbah Duan )


Putus asa tak boleh ada dalam diri ini
Terkadang manusia takut
Kepada bayangan sendiri
Bayangan yang selalu mengikunya
Kemanapun kita pergi

Bayangan kita takkan pernah jauh
Dan tak kan pernah hilang dari kita
Sebelum kita menutub mata
Maka…
Tiada yang perlu ditakuti
Dalam hidup ini
Yang ada hanya lah
Hal-hal yang perlu dipahami

Cinta boleh hancur
Harapan boleh tak terwujud
Tapi
Putus asa tak boleh ada
Bangkit dan
Berjuang

( Oleh : Mbah Duan )

Bayangan mue
Sayang ….napa kau selalu hadir dalam hidup ku ci ?
Napa aku ga’bisa lupakan kamue
Padahal aku da berusaha mati2an,
Napa gambar kamue manggil2 akue
Dan sangat kecil sekali
Kamu ingat akue
Mungkin kamu dah lupakan ku
Mungkin kau dah punya cowok baru
Pi kenapa kau selalu menghantui ku
Pergi sayang…………….
Tolong jangan siksa diriku
Kalau cintamu emang bukan untukku
Biar ku mengubur cinta ini di dalam hati
Biar biarkan aku menenangkan diri
Plez………………..
Lama sekali aku menunggu smsmu
Menunggu telfonmu pi……………..
Harapan hanya tinggal harapan
Lamunan Cuma lamunan
Tu semua harus aku akhiri
Tolong………………………..
Jangan ganggu aku ………………………….!

( Oleh : Mbah Duan )

Tiada gading yang tak retak
Tiada gading yang tak retak
Itulah isi dunia
Begitu pula kamu sayang…..
Sebesar apaptn kesalahan yang kau perbuat
Bagai tawanan di dalam penjara
Ku hanya bisa pasrah….
Menunggu dan menunggu
Cinta telah memenjarakan ku
Cinta telah memperbudak aku
Aku sirna dalam perasaanku sendiri
Itulah aku
Ku ingin melawan arus itu
Tapi justru ku tersapu
Oleh gelombang badai dalam perasaan ku
Inikah yang disebut kebutaan cinta
Tidak…… ini bukan kebutaan
Ini adalah kesadaran
Kesadaran untuk mencintai
Dan di cintai
Tapi beginilah penderitaan cinta
Yang tak da akhirnya

( Oleh : Mbah Duan )

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar